Yogyakarta yang semakin istimewa 

 

Yogyakarta pada 7 Oktober 2021 ini merayakan hari jadinya ke 265 tahun, serangkaian kegiatan dipersiapkan untuk menyambut hari jadi Kota Yogyakarta kali ini, salah satunya adalah kegiatan Familiarization Trip (FAM Trip) yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta. Para peserta FAM Trip 2021 yang terdiri dari berbagai media, vloger, bloger dan influencer diajak untuk  berkeliling kota Yogyakarta, kunjungan yang menyenangkan ini tentunya untuk melihat langsung budaya dan kearifan lokal Kota Yogyakarta yang penuh dengan keramahtamahan, menikmati destinasi wisata yang sudah kembali aktif, mencoba berbagai kuliner lezat dan merasakan sensasi wisata budaya dengan puncaknya menyaksikan event tahunan terbesar Kota Yogyakarta yakni Wayang Jogja Night Carnival yang merupakan acara tahunan yang sampai saat ini sudah berjalan 6 tahun.

Pengalaman istimewa FAM Trip kali ini juga ditawarkan melalui sebuah program paket wisata baru yang diberi nama Monalisa “Romansa Kota Lawas”, program ini bertujuan mengajak para wisatawan untuk menikmati beberapa destinasi wisata di Yogyakarta dengan mengendarai sepeda. MONALISA yang diambil dari kalimat “Menikmati Harmoni Kota Yogya dengan Lima Jalur Sepeda Wisata” ini ditujukan untuk mengajak para wisatawan untuk merasakan Pengalaman wisata sepeda melintasi Kota Yogyakarta, mengenal lebih dekat budaya, atraksi, kerajinan, kuliner dan keramahtamahan dari kampung wisata serta obyek wisata di sepanjang jalan yang dilewati saat bersepeda.

Rombongan FAM Trip memulai rangkaian bersepeda di hari jadi Kota Yogyakarta dimulai dari berkeliling area Kebun Binatang Gembira Loka yang biasa disebut Gembira Loka Zoo, kegiatan yang disebut Zoopeda ini juga bisa dinikmati pengunjung Gembira Loka umumnya di hari Sabtu dan Minggu di pagi hari. Puas berkeliling Gembira Loka Zoo yang berisi berbagai macam spesies dari belahan dunia, seperti Orang Utan, Gajah Asia, Simpanse, Harimau, Penguin, berbagai jenis burung dan reptil, hingga bersantai menaiki speedboat di danau buatan. Kembali melanjutkan program monalisa, para peserta FAM Trip juga diajak bersepeda ke area Kotagede menyusuri setiap kelokan, tanjakan dan turunan dengan dipandu cerita Pak Is dari Dinas Pariwisata Kota Yogyakarta yang menjelaskan setiap sisi kota sehingga makin membuat kagum akan Jogja.

Kami sejenak beristirahat dari bersepeda, ketika memasuki area Masjid Gedhe Kota Mataram, rombongan FAM Trip di fasilitasi berziarah ke makam Raja-Raja Mataram, diantaranya yakni makam Panembahan Senopati, Ki Gede Pemanahan, dan Sultan Hadiwijaya. Komplek area makam yang dikelilingi tembok besar, gapura, dan di dalamnya para peserta dapat berfoto di sekitar makam yang penuh dengan sejarah dan cerita serta arsitektur bercorak Hindu dan Jawa yang begitu indah.

Peserta FAM Trip lalu melanjutkan bersepeda di Kotagede dan kembali beristirahat untuk menikmati jajanan tradisional khas Kotagede yang bernama Kipa (kipo) yang merupakan kue khas Kotagede yang terbuat dari campuran bahan ketan, santan, garam, dan gula, dibuat dengan cara diuleni kemudian dikukus serta dibakar. Disini kami langsung mencoba untuk belajar membuat dan menikmati jajanan Kipa (kipo) langsung dari pembuat Kipa (kipo) yang tertua di Kotagede. Sebelum kembali ke lokasi menginap di Hotel Harper Malioboro, para peserta FAM Trip diajak mengunjungi Museum Sandi di kawasan Kotabaru, museum ini merupakan museum kriptologi satu-satunya di Indonesia. Para peserta diajak untuk mempelajari cara membuat sandi secara sederhana serta belajar tentang sejarah pendirian institusi pengamanan berita rahasia pada awal kemerdekaan Indonesia, kami berkeliling dijelaskan mengenai bagaimana peran sandi sebagai bahasa komunikasi rahasia selama ini baik di dalam negeri maupun di dunia internasional.

Setelah puas berkeliling kota seharian, sore menjelang malam rombongan FAM Trip diajak untuk menikmati dinner dan tea time di Hotel IOI lalu kemudian menyaksikan pertunjukan Wayang Jogja Night Carnival yang diadakan di Stadion Mandala Krida. Parade wayang terbesar ini dimulai pukul 18.00 hingga menjelang tengah malam, acara ini diikuti oleh penampilan dari komunitas seni dan budaya dari 14 kecamatan di Yogyakarta. Mereka menampilkan karya seni masing-masing kepada penonton. Istimewa gelaran WJNC ke-6 ini dihadiri langsung oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Menparekraf RI), Sandiaga Salahuddin Uno yang hadir dan kemudian mengajak seluruh jajaran Pemkot Yogyakarta menjaga brand dan untuk mempromosikan Kota Yogyakarta ke dunia.

Di hari jadinya Kota Yogyakarta, Drs. H. Haryadi Suyuti sebagai Wali Kota Yogyakarta mengumumkan bahwa Kota Jogja sudah fully vaccinated untuk warganya dan Jogja menunggu seluruh wisatawan untuk berkunjung kembali kesini. Beliau juga selalu mengingatkan, bahwa meski sudah berhasil melakukan vaksinasi 100%, Bapak Walikota menghimbau warga Yogyakarta tetap menerapkan protokol kesehatan. Tetap selalu menggunakan masker dan menjaga kesehatan – dengan harapan bisa menekan angka penularan Covid-19.  Hari ini juga diharapkan menjadi momen bagi Kota Yogyakarta untuk bangkit Kembali serta mendorong industri pariwisata hidup Kembali seperti semula. Masyarakat di luar Kota Yogyakarta, silahkan datang kembali ke Yogyakarta menikmati keindahan Kota Yogyakarta.

Acara WJNC tahunan ini juga bertujuan menjadi daya tarik wisata yang memperkuat imej Yogyakarta sebagai destinasi wisata utama. WJNC mengusung tema berbeda setiap tahunnya dan selalu mengambil latar belakang cerita Wayang dari Keraton Yogyakarta sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Travelink Magz juga mengajak seluruh pecinta traveling Indonesia untuk kembali berwisata di dalam negeri, banyak rindu yang perlu diobati.

Selamat bertambah usia kota istimewa Yogyakarta terima kasih untuk semua keramahan kotamu.

 

#HUTKotaJogja265

#jogjafamtrip2021

#pariwisatakotajogja

#jogjawelcomesyou

#yogyakartatourismpromotionboard

#wayangjogjanightcarnival

#wjnc2021

Rantai Mutiara di Laut Jawa

 

Laju kehidupan dan gemerlap ibu kota seakan memberi janji bagi para pendatang dari luar kota untuk mengadu nasib di Jakarta. Tingkat urbanisasi yang terus mengalami kenaikan ini menjadikan Jakarta sebagai kota terpadat kedua di dunia. Kesibukan jam kerja yang seolah-olah tanpa henti pun kerap berujung pada terbatasnya waktu bersama keluarga dan kerabat.

Rekreasi maupun liburan menjadi prioritas kesekian setelah kepentingan dunia kerja. Nongkrong untuk memperluas jaringan dan memenuhi gaya hidup metropolitan dianggap sudah cukup menjawab kebutuhan bersantai warga ibu kota.

Waktu telah menjadi satu hal yang sangat berharga, sehingga liburan untuk sejenak keluar dari kepenatan ibu kota yang dapat diperoleh dalam waktu singkat pun senantiasa menjadi persoalan bagi warga Jakarta.

Salah satu jawaban dari situasi tersebut sebenarnya dapat Travelers temui di satu wilayah yang dijuluki Maldiven van Java. Predikat yang didapat karena keelokan kumpulan pulau-pulau tropis layaknya di Maladewa ini, melekat pada Kepulauan Seribu yang masih berada di bawah administrasi DKI Jakarta.

Kepulauan Seribu

Menikmati keindahan biota laut menjadi salah satu aktivitas utama di Kepulauan Seribu.

Mendengar nama Kepulauan Seribu sudah pasti Travelers langsung membayangkan jika pulau yang ada di sana berjumlah seribu. Faktanya, jumlah pulau yang ada di Kepulauan Seribu berjumlah 342. Namun layaknya pulau-pulau lain di Indonesia, sebagian besar pulau di Kepulauan Seribu tidak berpenghuni, melainkan hanya pulau-pulau pasir dan terumbu karang, baik yang bervegetasi maupun yang tidak.

Walau terletak berdekatan dengan Jakarta, budaya penduduk Kepulauan Seribu cukup berbeda dengan masyarakat Betawi. Budaya dan karakteristik masyarakat Kepuluan Seribu justru terlahir dari perpaduan budaya Banten, Kalimantan, Sunda, dan suku Mandar dari Sulawesi. Hasil campuran tersebut lalu menghasilkan satu budaya dan karakter yang baru, yakni kebudayaan ‘Orang Pulo’.

Sebagai destinasi liburan, Kepulauan Seribu menawarkan berbagai aktivitas air yang seru seperti snorkeling, diving dan memancing. Jika Travelers tertarik untuk mengunjungi Kepulauan Seribu, berikut adalah rekomendasi beberapa pulau.


• PULAU ONRUST

Sempat menjadi wilayah pertahanan VOC, Pulau Onrust masih menjadi rumah bagi beberapa bangunan peninggalan penjajahan Belanda seperti benteng pertahanan dan pelabuhan kuno, walaupun bentuknya memang sudah tidak utuh seperti sedia kala. Untuk menuju ke sini, Travelers bisa memilih paket trip yang disediakan oleh trip organizer, biasanya hanya tersedia one day trip dengan tujuan destinasi seperti Pulau Onrust, Pulau Kelor dan Pulau Untung Jawa. Harga paket trip pun bervariasi, namun masih terjangkau, apalagi jika Travelers pergi beramai-ramai dan bisa sharing harga.


• PULAU PRAMUKA

Sebagai pusat administrasi dan pemerintahan Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka menawarkan fasilitas yang paling lengkap dibandingkan pulau-pulau lainnya, baik fasilitas umum maupun fasilitas penunjang pariwisata. Salah satu aktivitas yang wajib Travelers lalukan di Pulau Pramuka adalah mengunjungi pelestarian salah satu satwa dilindungi yaitu penyu sisik. Travelers dapat mencapai Pulau Pramuka menggunakan perahu motor tradisional dari pelabuhan Kali Adem Muara Angke atau dengan speedboat dari dermaga kapal Marina Ancol. Dari pulau ini, Travelers juga dapat mengunjungi beberapa pulau sekitar yang tak kalah memikat, seperti Pulau Semak Daun untuk camping, Pulau Air untuk snorkeling atau sekadar menikmati pemandangan matahari terbenam. Daya tarik pulau-pulau sekitarnya dapat Travelers nikmati dengan menyewa ojek kapal. Di Pulau Pramuka juga tersedia penginapan yang disewakan oleh warga dengan harga yang cukup terjangkau.


• PULAU HARAPAN

Dengan jarak kurang lebih 30 menit dari Pulau Pramuka, Pulau Harapan salah satu destinasi yang sering dikunjungi di Kepulauan Seribu. Letaknya yang jauh dari ibu kota menjadikan Pulau Harapan dan sekitarnya jarang tersentuh sehingga masih minim dari polusi. Setibanya di Pulau Harapan, Travelers langsung disambut oleh air laut yang bening, sehingga snorkeling untuk menikmati pesona keindahan terumbu karang pun menjadi salah satu aktivitas pilihan. Perlengkapan snorkeling juga tersedia untuk disewa dengan harga yang terjangkau. Hilir mudik ojek kapal kerap terlihat mengantar pengunjung yang ingin berkeliling hingga ke pulau sekitarnya seperti Pulau Macan, Pulau Genteng, Pulau Papa Theo, Pulau Dolphin dan Pulau Bira. Biasanya Travelers membutuhkan waktu seharian untuk mengunjungi lebih dari tiga pulau sebelum kembali ke penginapan setelah matahari terbenam.


• PULAU BIRA

Pulau resort yang kian digemari oleh wisatawan ini terletak tidak jauh dari Pulau Harapan. Daya tarik Pulau Bira terletak di keindahan pantai landainya dengan pasir putih serta air yang bening. Selain bersantai di tepi pantai sambil menikmati suara ombak dan jernihnya air laut, Travelers juga dapat melakukan atktivitas snorkeling maupun diving. Mengingat memang ada keterbatasan jumlah cottages yang tersedia, Travelers yang berkunjung ke Pulau Bira hendaklah memesan penginapan jauh sebelum hari keberangkatan. Karena Pulau Bira bukanlah pulau berpenghuni, maka jangan heran apabila sering melihat ojek kapal yang berlabuh di dermaga. Sebagian mengantar tamu dan sebagian lagi mengantarkan makanan dari Pulau Harapan. Malam hari di Pulau Bira, Travelers dapat bersantai di dermaga sembari mendengarkan deburan ombak dan menikmati taburan bintang.

Pulau Gosong

Pesona salah satu pulau gosong di Kepulauan Seribu.

Akses menuju Kepulauan Seribu dapat menggunakan kapal dari Kali Adem Muara Angke dengan waktu tempuh sekitar 1.5 hingga 3.5 jam, tergantung destinasi yang dituju. Ingin tiba lebih cepat? Maka Travelers dapat menggunakan speedboat dari Marina Ancol dengan waktu tempuh 1 hingga 1.5 jam tergantung destinasi yang dituju.

Selain empat pulau di atas, tentunya masih ada pulau-pulau lainnya seperti Pulau Bidadari, Pulau Macan dan Pulau Sepa yang juga menawarkan keindahan Kepulauan Seribu, lengkap dengan layanan resort dan fasilitasnya. Aktivitas yang ditawarkan kurang lebih hampir sama yaitu island hopping, snorkeling, dan diving.

Suguhan keindahan dan keseruan wisata pulau bagi warga Jakarta yang kerap kali memilki keterbatasan waktu, berhasil menjadikan Kepulauan Seribu sebagai salah satu destinasi liburan incaran. Jadi sudah siap untuk membuat itinerary staycation di Kepulauan Seribu? Ayo bersiap untuk mendapatkan pengalaman seru yang tidak jauh dari ibu kota!

Artikel : Nelce Muaya | Foto : George Timothy


Mengamati Fauna Liar di Metropolis

 

Seperti yang kita ketahui, Jakarta merupakan kota metropolitan yang terkenal dengan semarak dan gemerlapnya. Namun di sisi lain, sudah menjadi lumrah menyandingkan nama Jakarta dengan kemacetan dan polusi. Maka dari itu, kebutuhan Jakarta akan ruang terbuka hijau telah menjadi konsentrasi dari berbagai pihak untuk terus digalakkan, sebagai salah satu upaya mengurangi pencemaran udara. Ruang terbuka hijau di tengah kota Jakarta dapat memberikan udara segar serta alternatif baru bagi warga ibu kota untuk ikut andil dalam konservasi alam sedini mungkin.

Salah satu ruang hijau terbuka yang ada di Jakarta adalah kawasan Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk yang terletak di utara ibu kota. Terletak di garis pantai dengan kadar garam yang tinggi, kawasan yang lebih akrab disebut TWA Mangrove ini adalah sebuah ekosistem lahan basah yang didominasi oleh beberapa jenis pepohonan mangrove.

Biasa tumbuh di atas rawa-rawa, tepatnya di daerah pantai dan sekitar muara sungai, kawasan hutan bakau atau mangrove memiliki berbagai fungsi. Mulai dari mencegah erosi dan abrasi pantai hingga mencegah intrusi laut atau perembesan air laut ke tanah daratan yang menyebabkan air tanah menjadi payau dan tidak layak untuk dikonsumsi. Melalui akar-akarnya, pepohonan mangrove ini berfungsi sebagai pelindung bagi tanah agar terhindar dari pengikisan yang disebabkan oleh air.

Selain sebagai upaya untuk menstabilkan ekosistem pantai yang berada tidak jauh dari Jakarta, keberadaan ruang hijau terbuka ini juga dipercaya dapat menyerap karbondioksida lima kali lebih banyak daripada hutan tropis. Sehingga menjadi sebuah keuntungan bahwa di tengah kota Jakarta yang memiliki tingkat polusi udara yang cukup tinggi, masih terdapat surga hijau seluas 99,82 hektar yang dapat dinikmati oleh warga ibu kota dan sekitarnya. Tidak hanya sebagai konservasi alam saja, TWA Mangrove pun dapat dimanfaatkan sebagai pariwisata, rekreasi alam bahkan sebagai sarana edukasi.

Sebagai bagian dari kawasan hutan Angke Kapuk dan selain merumahi beberapa jenis mangrove, TWA Mangrove juga menjadi habitat bagi beragam satwa liar yang hampir seluruhnya merupakan satwa yang dilindungi. Saat menelusuri perairan TWA Mangrove, Travelers akan menemui beragam jenis burung seperti cangak abu, cekakak sungai, belibis, belekok, elang laut, kokokan laut, dan itik benju yang terbang bebas ataupun hinggap di pepohonan.

TWA_Mangrove

Suaka bagi sejumlah kehidupan fauna liar, biota yang dapat ditemukan di TWA Mangrove Angke Kapuk saat ini mencerminkan ekosistem alami yang dulu dapat ditemukan di seluruh pesisir Jakarta.

Selain itu, ada pula satwa liar lainnya seperti biawak air, udang bakau dan ikan gelodok. Semua dapat Travelers jumpai dengan menyewa speedboat seharga Rp.30.000 per orang, dengan minimum empat orang setiap perjalanannya. Setiap menyewa speedboat, Travelers akan ditemani oleh sepasang pemandu yang sudah hafal akan seluk-beluk kawasan ini. Sepanjang perjalanan, mereka akan menjelaskan satwa-satwa apa saja yang dijumpai dan kebiasaan para satwa ini. Demi keamanan pengunjung, speedboat pun sudah dilengkapi dengan life vest.

Selain menggunakan speedboat, Travelers juga dapat menelusuri kawasan TWA Mangrove dengan berjalan kaki untuk menikmati suasana alami nan asri berkat deretan tumbuhan mangrove di dalamnya. Mulai dari mangrove jenis api-api, bakau, bidara, warakas, buta-buta hingga cantinggi, semuanya membutuhkan waktu lebih dari 10 tahun untuk dapat terlihat rimbun seperti di kawasan ini.

Salah satu aktivitas lainnya yang terbuka bagi umum, baik secara individu maupun kelompok, adalah penanaman bibit mangrove di beberapa titik yang telah ditentukan. Uniknya, setelah bibit diberikan dan ditanam, Travelers juga dapat memberikan nama untuk tumbuhan mangrove tersebut. Aktivitas ini merupakan salah satu cara TWA Mangrove untuk menarik perhatian dan mendidik publik akan isu konservasi alam, terutama kelestarian ruang terbuka hijau di ibu kota

Terletak di Kelurahan Kamal Muara, tak jauh dari Yayasan Buddha Tsu Chi Indonesia, TWA Mangrove dapat diakses melalui Toll JORR atau dengan transportasi umum seperti TransJakarta. Dengan lokasi yang cukup strategis ini, tak heran apabila TWA Mangrove telah menjadi salah satu destinasi liburan di Jakarta.

Namun perlu diingat, bagi Travelers yang membawa kamera masuk untuk melakukan sesi foto bersama kerabat maupun keluarga, TWA Mangrove memang mengenakan biaya tambahan. Biaya ini tentunya sepadan saat Travelers dapat menyaksikan indahnya pemandangan matahari terbenam di antara hutan mangrove.

TWA_Mangrove

Aktivitas safari dengan menyusuri sungai di TWA Mangrove Angke Kapuk.

Selain itu, TWA Mangrove juga menawarkan fasilitas penginapan bagi Travelers yang ingin merasakan bermalam di tengah suasana hutan mangrove. Sudah dilengkapi dengan AC, TV Cable, WiFi, serta kamar mandi dengan air panas, letak penginapan ini pun tidak jauh dari restoran yang menyajikan masakan khas Indonesia.

Untuk menjamin kenyamanan pengunjung, fasilitas lain yang ditawarkan di TWA Mangrove adalah masjid, aula, area bermain anak dan perkemahan, serta kamar mandi. Penawaran khusus seperti pembebasan tiket masuk ke TWA Mangrove tersedia di tiap hari Sabtu dan Minggu, khusus untuk Travelers yang datang sebelum pukul 07:00 atau untuk yang berusia di atas 60 tahun. Bagi teman-teman pelajar dan mahasiswa, ada pula harga khusus yang ditawarkan yaitu Rp15.000 per orang yang berlaku setiap Senin hingga Jumat.

Bagi Travelers yang ingin menghabiskan waktu di Jakarta namun ingin beristirahat dari riuhnya ibu kota, maka menjelajahi TWA Mangrove adalah pilihan yang tepat. Bagai firdaus tersembunyi di tengah belantara pencakar langit, pesona panorama suakanya akan memberikan ketenangan yang tak ada duanya.

Artikel : Nelce Muaya | Foto : Nelce Muaya, George Timothy

  • Fakta

    Sebelum mulai dikembangkan pada tahun 1998, area Taman Wisata Alam Mangrove Angke Kapuk sempat menjadi kawasan pertambakan liar. Namun saat ini, hamparan seluas 99,82 ha ini telah dimaanfaatkan sebagai suaka alam dan tempat rekreasi yang turut mengurangi tingkat polusi di Jakarta dengan rimbun pepohonan mangrove-nya.



Api Kemerdekaan yang Tak Akan Padam

“Belum ke Jakarta, jika belum ke Monas.” Penggalan komentar yang tak jarang terdengar di telinga ini, terutama dari warga luar Jakarta, seakan menggambarkan posisi Monas sebagai ikon kota Jakarta. Bahkan lebih dari itu, Monas juga sering dijadikan ikon dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Setelah keluarnya pengakuan kedaulatan Republik Indonesia oleh pemerintah Belanda pada tahun 1949, Presiden Soekarno mulai menggagaskan pembangunan sebuah monumen megah yang berlokasi di lapangan depan Istana Merdeka.

Monumen ini bertujuan untuk mengenang dan mengabadikan perjuangan bangsa Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan 1945, agar terus menginspirasi semangat patriotisme pada generasi penerus bangsa.

Monumen yang akrab disebut Monas ini akhirnya mulai dibangun pada 17 Agustus 1961, diarsiteki oleh Frederich Silaban dan R. M. Soedarsono, lalu diresmikan serta dibuka untuk umum pada 12 Juli 1975 oleh Presiden Soeharto.

Monas

Monas yang kian menjadi simbol semangat perjuangan dan kemerdekaan Republik Indonesia.

Layaknya sebuah monumen negara, Monas pun dibangun sarat dengan simbol dan makna. Adalah ide dari Presiden Soekarno untuk membentuk Tugu Monas dengan konsep lingga dan yoni. Tugu obelisk yang menjulang setinggi 117,7 m adalah lingga yang melambangkan aspek maskulin, sedangkan pelataran landasan obelisk adalah yoni yang melambangkan aspek feminin. Keduanya melambangkan kesatuan Indonesia yang harmonis dan saling melengkapi sejak dahulu kala.

Di puncak Monas pun terdapat bentuk cawan yang menopang api dengan berat 14,5 ton dan dilapisi emas 35 kg. Bagian yang disebut lidah api ini adalah simbol semangat perjuangan rakyat Indonesia yang ingin meraih kemerdekaan.

Awal dibangun, lidah api dihiasi oleh lapisan emas seberat 35 kilogram, di mana 28 kilogramnya adalah hadiah dari seorang saudagar bernama Teuku Markam dari Aceh. Akan tetapi, pada ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-50, lapisan emas pada lidah api ditambah lagi beratnya hingga 50 kilogram. Lidah api yang tidak pernah padam ini menjadi sebuah simbol agar kita senantiasa memiliki semangat perjuangan yang terus membara.

Banyak aktivitas yang Travelers dapat lakukan ketika berada di Monas. Elevator pada pintu sisi selatan akan membawa Travelers ke puncak Monas untuk melihat pemandangan Jakarta dari ketinggian. Ada pula Museum Sejarah Nasional Indonesia yang memamerkan 51 diorama mengenai sejarah Indonesia sejak masa prasejarah hingga masa Orde Baru.

Peta Indonesia

Peta Indonesia berlapis emas yang terletak di dalam Monas.

Travelers juga dapat melihat beberapa simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia di dalam Ruang Kemerdekaan, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, serta naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas. Gerbang ini dihiasi ukiran bunga wijayakusuma yang melambangkan keabadian, serta bunga teratai yang melambangkan kesucian.

Beranjak ke halaman Monas, Travelers dapat melihat relief yang menggambarkan sejarah Indonesia di tiap sudutnya. Relief ini secara kronologis menggambarkan sejarah bangsa Indonesia dalam meraih kejayaan. Mulai dari masa Majapahit, penjajahan Belanda, perlawanan rakyat dan pahlawan-pahlawan nasional, kependudukan Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia, hingga masa pembangunan Indonesia modern.

Selain itu Travelers yang berkunjung di akhir pekan juga dapat menikmati pertunjukan air mancur diiringi lagu-lagu Indonesia pada pukul 19:30 dan 20:30 WIB. Untuk Travelers yang tidak ingin kelelahan saat mengelilingi Monas, dapat menggunakan fasilitas kereta gratis di setiap halte yang disediakan.

Dengan berbagai cerita di balik pembangunannya, bagi Travelers yang ingin mengenal lebih dalam mengenai sejarah Indonesia sembari ditemani berbagai aktivitas menarik, maka Monas adalah pilihan situs yang tepat untuk dikunjungi selama di Jakarta. Begitu kental dan signifikannya sosok Monumen Nasional ini dalam sejarah Indonesia, sehingga menjelajahi ibu kota pertama Indonesia pun rasanya belum lengkap kalau tak mampir ke Monas.

Artikel : Alisa Pratomo | Foto : George Timothy, Iqbal Fadly

  • Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta

  • Hubungi

    (021) 3822255

  • Jam Operasional

    Buka setiap hari, Senin – Minggu (pukul 08.00 – 22.00 WIB)

  • Informasi
    • Mulai dibangun : 17 Agustus 1961
    • Selesai : 12 Juli 1975
    • Diresmikan : 12 Juli 1975
    • Tinggi : 137 meter
    • Arsitek : Frederich Silaban dan R.M. Soedarsono
    • Kontraktor Utama : P.N. Adhi Karya (tiang fondasi)
    • Bentuk Tugu Monas kerap ditafsirkan sebagai sepasang alu dan lesung. Kedua alat penumbuk padi ini seyogyanya selalu ada dalam rumah tangga petani tradisional di
      Indonesia. Interpretasi ini semakin mengokohkan makna Monumen Nasional sebagai bangunan memorial akan sejarah bangsa dengan balutan budaya Indonesia yang kental.

Di Mana Pusaka Bermuara

Indonesia tentu memiliki daftar panjang akan benda pusaka yang berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Mulai dari mahkota yang pernah bersandar di atas kepala raja-raja, keris dan pedang berhiaskan emas permata, hingga pahatan dengan detail mengagumkan pada lukisan batu dari era megalitikum.

Semua benda pusaka menceritakan kehidupan manusia dan kebudayaan yang membentuknya, dengan ragam rupa dan warna yang mencerminkan kebinekaan Indonesia. Dan saat ini, tidak ada tempat yang lebih menyeluruh untuk mengenal dan mempelajari ribuan pusaka Nusantara selain di Museum Nasional Indonesia.

Museum Nasional Indonesia terletak di jantung kota Jakarta, tepatnya di wilayah Medan Merdeka yang telah tumbuh menjadi area strategis bahkan sejak zaman Hindia-Belanda. Dengan jumlah koleksi yang saat ini mencapai lebih dari 140.000 objek, museum yang berdiri di area seluas 26.500 m2 ini merupakan salah satu museum terbesar di Asia Tenggara dan salah satu museum tertua di Asia.

Sejarah Museum Nasional Indonesia dimulai pada abad ke-18, saat Zaman Pencerahan (Age of Enlightenment) menyelimuti Belanda dan seluruh Eropa dengan revolusi intelektual dan semangat akan ilmu pengetahuan.

Pada tahun 1778, orang-orang Belanda di Batavia membentuk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen, sebuah lembaga yang fokus terhadap penelitian akan seni dan ilmu pengetahuan di Hindia-Belanda. Dengan moto “Ten Nutte van het Algemeen”, lembaga ini bertekad untuk bergerak demi kepentingan masyarakat umum.

Patung karya Nyoman Nuarta

Patung karya Nyoman Nuarta yang menyimbolkan arus perjuangan ini menjadi salah satu ikon dari Museum

Bataviaasch Genootschap pun aktif mengumpulkan berbagai artefak budaya maupun peninggalan bersejarah di sekitar Hindia-Belanda. Meski hanya diawali dengan sumbangan dari koleksi pribadi JCM Radermacher sebagai salah satu pendiri lembaga, koleksi Bataviaasch Genootschap terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Hingga pada tahun 1862, pemerintah Hindia-Belanda mendirikan gedung baru untuk menampung koleksi yang telah mencapai ribuan. Gedung yang resmi dibuka untuk umum pada tahun 1868 itu masih dipakai hingga saat ini sebagai bagian dari Museum Nasional Indonesia.

Setelah Indonesia merdeka, koleksi Bataviaasch Genotschap yang terkumpul selama ratusan tahun dipercayakan kepada Museum Nasional Indonesia dan Perpustakaan Nasional. Sejak itu, Museum Nasional Indonesia memegang peranan penting sebagai salah satu penjahit identitas bangsa lewat koleksinya.

Tidak hanya benda pusaka atau benda bersejarah saja, berbagai instrumen budaya seperti kerajinan, alat musik dan rumah tradisional dengan jenis yang begitu beragam dari seluruh penjuru Indonesia juga dapat dipelajari di museum ini.

Selain dari gedung asli yang dibangun pemerintah Hindia-Belanda, area museum juga terus mengalami perluasan dan revitalisasi. Koleksi museum di Gedung Gajah terbagi dalam 7 jenis: Arkeologi, Etnografi, Geografi, Keramik, Numesmatik & Heladrik, Prasejarah dan Sejarah. Sedangkan jenis koleksi di Gedung Arca mencakup Manusia & Lingkungan, Ilmu Pengetahuan, Ekonomi dan Teknologi, Organisasi Sosial dan Pola Pemukiman, serta Koleksi Emas dan Keramik Asing.

Koleksi museum juga kian bertambah lewat sejumlah temuan arkeologi terkini. Pengembalian 1,500 benda bersejarah Indonesia oleh Kerajaan Belanda baru-baru ini juga menambah daftar koleksi di Museum Nasional, dan akan mulai dipamerkan ke publik di pertengahan 2020 mendatang.

Taman Arca

Taman Arca, Museum Nasional Indonesia

Bagian dari museum lainnya yang ikonik adalah Taman Arca yang menampung jajaran arca dalam berbagai bentuk dan ukuran, serta dari tempat dan waktu pembuatan yang juga bervariasi. Salah satu arca yang menonjol adalah Arca Bhairawa yang ditemukan di Sumatra Barat dan menjulang setinggi 4,4 m.

Selain Taman Arca, di area museum terdapat juga Taman Sanken yang kerap menjadi tempat diselenggarakannya berbagai kegiatan museum. Museum Nasional Indonesia banyak mengadakan aktivitas edukasi seperti seminar, diskusi, pameran, pementasan maupun kelas-kelas kesenian tradisional yang terbuka bagi umum.

Arca Bhairawa

Arca Bhairawa yang ditemukan di Sumatra Barat

Hampir setiap negara di dunia memiliki museum nasionalnya sendiri sebagai rumah bagi sejumlah national treasure dan jendela bagi identitas bangsa dan negaranya. Museum Nasional Indonesia memaparkan berbagai cerita kehidupan dalam seluruh lintas sejarah manusia di Indonesia, menjembatani generasi mendatang dengan nenek moyangnya lewat berbagai ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan yang terwariskan dalam tiap pusaka. Dan lewat koleksinya yang begitu beragam, Museum Nasional Indonesia adalah presentasi istimewa dari kemajemukan Indonesia yang patut untuk dibanggakan.

Artikel : Iqbal Fadly | Foto : Fauzi Ramdhani, Nelce Muaya

  • Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10110

  • Hubungi

    (021) 3868172

  • Jam Operasional

    Buka hari Selasa – Jumat (pukul 08.00 – 16.00 WIB) dan hari Sabtu – Minggu (pukul 08.00 – 17.00 WIB)