Pos

Kesempurnaan Dalam Rasa Pahit

“Bismillah, Siti Kewe
Kunikahen ko urum kuyu
Wih kin walimu
Tanoh kin saksimu
Lo kin saksi kalammu.”

“Bismillah, Siti Kewe
Kunikahkan kau dengan angin
Air sebagai walimu
Tanah sebagai saksimu
Matahari sebagai saksi kalammu.”

Barisan kalimat tersebutlah yang diucapkan para petani kopi di Tanoh Gayo pada masa lampau, seiring kopi mereka mulai menampakkan bunga-bunga putih yang menari-nari kecil tertiup angin. Mantra Siti Kewe di atas adalah bentuk doa agar kopi-kopi dapat tumbuh dengan subur. Dimana bunganya akan berubah untuk menghasilkan buah-buah kopi yang dapat membawa banyak rezeki bagi para petaninya.

Siti Kewe sendiri adalah nama lain untuk kopi dalam bahasa Gayo. Dan mantra Siti Kewe ini manggambarkan kesakralan tersendiri dalam bagaimana masyarakat Gayo memandang kopi.

Hingga saat ini kopi tidak hanya menjadi komoditas utama dan sumber penghidupan bagi masyarakat di Tanoh Gayo. Bagi mereka, kopi juga menjadi suatu kebanggaan dan bagian dari budaya yang telah mendarah daging.

Awal mulanya, kopi dibudidayakan oleh pemerintahan Belanda di masa kolonial. Kondisi daerah yang berada di ketinggian, berbukit, dan dengan curah hujan yang tinggi membuat Tanoh Gayo menjadi kawasan yang tepat untuk budidaya kopi.

Perkebunan kopi yang di tahun 1908 hanya berada di tepian Danau Lut Tawar lambat-laun merambak ke kaki Gunung Bur Ni Telong, hingga ke daerah Gayo Lues. Sekarang, Dataran Tinggi Gayo merupakan penghasil kopi arabika terbesar di Indonesia, bahkan di seluruh Asia.

Kopi gayo memang terkenal di seluruh dunia karena aroma tajam yang khas dan variasi rasanya yang unik. Kopi arabika gayo bahkan sempat menjadi salah satu kopi termahal di dunia. Salah satu keunikan kopi gayo adalah rasanya yang sangat bervariasi.

Di seluruh Gayo, lokasi kebun yang berbeda menghasilkan kopi dengan cita rasa yang juga berbeda. Ada beberapa hal yang menyebabkan perbedaan cita rasa ini, seperti ketinggian dari permukaan laut, kemiringan tanah, tingkat keasaman tanah serta jenis tanah vulkanik dan non vulkanik.

Varietas kopi yang ditanam di Tanoh Gayo pun bermacam-macam, dengan processing pasca panen yang juga beraneka ragam. Seluruh faktor tersebut membuat kopi gayo kaya akan variasi rasa serta aroma, menjadikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan, khususnya turis asing penikmat kopi, untuk datang ke Tanoh Gayo memburu kopi-kopi dengan rasa terbaik.

Lebih dari 70 persen masyarakat Gayo adalah petani kopi, dengan lahan kebun yang pada umumnya diwariskan secara turun-temurun. Banyak dari orang Gayo yang dapat menyekolahkan anak-anak hingga ke jenjang perguruan tinggi berkat kopi.

Namun sayangnya, masih banyak petani kopi di desa-desa yang belum sejahtera. Kebanyakan dari mereka tidak menyadari akan potensi dari kopi di kebun mereka untuk dapat memaksimalkan kualitas dan profit bagi para petani itu sendiri. Ancaman terhadap kopi gayo juga datang dari perubahan iklim yang semakin nyata dampaknya, apalagi terhadap jenis kopi arabika yang hanya dapat hidup di iklim sejuk.

Kopi gayo merupakan salah satu komoditas yang sedang digalakkan oleh pemerintah Indonesia, dimana semakin besarnya permintaan asing yang melirik kopi gayo untuk diekspor ke negaranya masing-masing, terutama Amerika, Jepang dan Eropa.

Kenikmatan kopi gayo memang semakin terdengar dalam beberapa tahun terakhir. Para petani dan pengusaha kopi di Tanoh Gayo terus menjaga dan meningkatkan kualitas kopi gayo demi mengharumkan nama Indonesia di mata dunia, lewat harum aroma kopinya.

Perjalanan Anda ke Tanoh Gayo belumlah sempurna sebelum Anda menjelajah hamparan perkebunan kopi nan mempesona dimana Anda bisa melakukan coffee hunting, membeli kopi langsung dari para petaninya. Pastikan Anda datang saat musim panen di bulan April-Mei atau Oktober-November.

Kopi-kopi yang berbuah merah seperti ceri membuatnya lebih menawan dipandang mata, dan Anda bisa ikut memetik kopi sambil bersenda gurau dengan para petani setempat. Selain itu, di Takengon juga terdapat beberapa festival panen yang akan menambah kesan di kunjungan Anda dengan pertunjukan seni tradisional hingga pertunjukan musik jazz yang menjadi perayaan tahunan di Tanoh Gayo kala panen.

Anda dapat mencoba kopi-kopi gayo specialty dengan cita rasa kelas dunia namun harga yang sangat merakyat di kedai-kedai kopi lokal. Dimana terdapat banyak pengamat kopi yang akan selalu antusias untuk menemani Anda berdiskusi seputar kopi gayo mulai dari sejarahnya, proses, hingga perannya dalam masyarakat Gayo sehari-hari. Pembicaraan hingga larut itu tentu saja harus ditemani secangkir kopi gayo. Dan rasa kopi yang melekat di lidah, dijamin akan menagih Anda untuk memesan cangkir berikutnya.

Artikel : Iqbal Fadly | Foto : George Timothy & Mardiansyah BP

Serpihan Surga di Tanoh Gayo

‘Negeri di Atas Awan’ memang menjadi julukan yang tepat bagi Kota Takengon dengan keindahan alamnya yang istimewa. Terutama dengan Danau Lut Tawar serta pegunungannya yang mengelilingi danau seperti mangkuk raksasa. Danau Lut Tawar menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat Gayo yang hidup di pesisirnya seperti nelayan, peternak ikan, dan persawahan, selain juga menjadi sumber air bagi rumah-rumah di Takengon. Dengan luas sekitar 5,472 ha, danau ini adalah danau terluas di Provinsi Aceh dan daya tarik utama bagi para wisatawan untuk mengunjungi Takengon.

Pesona danau yang berada di ketinggian 1,200 mdpl ini mampu menghipnotis para wisatawan dengan eloknya kombinasi dataran, perairan dan perbukitan yang mengelilinginya. Keindahan Danau Lut Tawar dapat kita nikmati dengan cara mengelilinginya atau memandangnya dari atas perbukitan Takengon seperti Bur Telege dan Pantan Terong, dua tempat wisata yang wajib didatangi untuk menikmati indahnya view Danau Lut Tawar dan Kota Takengon dari ketinggian.

Bur Telege atau Bur Gayo, menjadi favorit bagi wisatawan karena jaraknya yang sangat dekat dari pusat kota. Selain memberikan view yang indah, Bur Telege juga menawarkan fasilitas yang menarik seperti berbagai spot untuk berfoto dan tempat bersantai seperti hammock, ayunan dan kedai-kedai sederhana bernuansa alam. Sedangkan di perbukitan Pantan Terong, Anda bisa menikmati secangkir kopi sambil memandang indahnya sunrise di Kota Takengon dan Danau Lut Tawar dengan ketinggian yang sempurna untuk berfoto.

Anda hanya butuh waktu sekitar 3 jam perjalanan dengan kendaraan untuk mengelilingi Danau Lut Tawar dan menikmati keindahannya dari dekat. Disela perjalanan Anda dapat berhenti untuk mengunjungi situs-situs sejarah seperti Loyang Mendale, Loyang Koro dan Putri Pukes yang berada di tepi danau. Di pinggir Danau Lut Tawar, tepatnya di Desa One-one, terdapat banyak rumah makan dengan hidangan khas Gayo yang tepat sebagai pemberhentian makan siang Anda.

Danau Lut Tawar juga memiliki beberapa spot terbaik untuk bermain air atau berenang sekalipun, seperti Pante Menye, Ujung Paking, Ujung Nunang dan masih banyak lagi. Anda bisa menyaksikan keseruan anak-anak sekitar bermain di tepi pantai, juga beberapa pemancing yang asyik dengan kailnya. Pantai-pantai ini juga menjadi spot bagi mereka yang menyukai kegiatan outdoor seperti camping atau outbound. Untuk Anda yang ingin merasakan suasana di atas danau, Anda bisa menaiki boat yang berada di Dermaga Dedalu atau Dermaga Tetunjung dengan harga yang sangat terjangkau.

Dibalik keindahannya, danau ini juga menyimpan berbagai legenda yang masih dipercaya penduduk setempat. Sejak dahulu kala Danau Lut Tawar memang selalu menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat Gayo, dimana para ceh didong kerap menyebutnya dalam bait syair mereka. Menunjukkan bahwa keindahan Danau Lut Tawar akan selalu menjadi kerinduan bagi orang-orang Gayo yang merantau, maupun bagi para pengujung yang kehabisan masa liburannya.

Artikel : Ibna Alfattah | Foto : Ibna Alfattah & George Timothy