Pos

Kuasa Maritim Kerajaan Kembar

Pulau Sulawesi dan lautan yang mengelilinginya telah lama menjadi wilayah penting dalam jaringan ekonomi dan politik di Nusantara. Dengan empat semenanjungnya yang menghadap laut yang berbeda, pulau yang dulunya lebih dikenal dengan nama Celebes ini menjadi rumah dari banyak suku dengan ragam budaya.

Di semenanjung yang kini menjadi bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan sendiri, terbentuk kerajaan-kerajaan kecil seperti Kerajaan Luwu, Bantaeng, Bone, Wajo, Soppeng, dan yang mungkin paling sering terdengar: Kerajaan Gowa – Tallo atau Kesultanan Makassar.

Kesultanan Makassar lahir dari dua kerajaan yang konon berasal dari garis keturunan yang sama: Gowa yang berpusat di kedalaman dan berbasis agraris, dan Tallo yang berada di pesisir dengan akses ke perdagangan maritim.

Mahkota raja-raja Gowa

Pada masa pemerintahan Tumapa’risi Kallona, Raja Gowa IX (1510 – 1547), kedua kerajaan memutuskan untuk bersatu dalam sumpah “Ia iannamo tau ampasiewai Gowa na Tallo iamo nacalla rewata”, yang bermakna “Siapa yang memecah belah Gowa dan Tallo akan mendapat celaka dari dewata”. Sumpah itulah yang menjadi cikal bakal dari salah satu kekuatan politik terbesar di Nusantara bagian timur pada masanya.

Sejak terbentuk di pertengahan abad ke-16, Gowa – Tallo kemudian dikenal sebagai kerajaan kembar dengan sistem pemerintahan Rua Karaeng na Se’re Ata (Dua raja dan satu rakyat), di mana raja-raja Gowa memerintah sebagai raja dengan gelar Sombayya ri Gowa, dan raja-raja Tallo memerintah sebagai Tu’mabicara butta atau perdana menteri.

Gowa merupakan daerah yang unggul dengan pertanian dan komoditas beras, sehingga mampu menopang pertumbuhan penduduk dan membangun militer yang kuat. Tallo juga memungkinkan kerajaan untuk membangun armada laut yang signifikan serta mendukung potensi utama Gowa – Tallo sebagai pelabuhan internasional yang mengedepankan pelayaran dan perdagangan maritim.

Di awal pembentukannya, Gowa – Tallo juga mengalami banyak pembaharuan yang semakin menunjang kemajuan kerajaan. Mulai dari perombakan sistem pemerintahan, pengadaan jabatan menteri dan syahbandar, menyusun undang-undang baru, hingga pembangunan sejumlah landmark seperti Benteng Somba Opu.

Benteng Somba Opu yang dulunya berbatasan dengan laut ini awalnya dibangun hanya dengan tanah liat dan putih telur. Namun struktur bangunannya terus diperkuat dengan batu bata dan penambahan persenjataan seperti sejumlah meriam oleh raja-raja setelah Tumapa’risi Kallona.

Di dalam benteng inilah pusat Kerajaan Gowa – Tallo sempat bertakhta. Dan kehidupan masyarakat pun tumbuh di sekitar benteng dengan kampung-kampung para pedagang, pelaut, petani, hingga para pendatang.

Museum Karaeng Pattingalloang

Travelers dapat mengunjungi peninggalan benteng yang terletak di kelurahan Somba Opu, Kecamatan Barombong, Kabupaten Gowa ini. Di areal benteng Travelers juga dapat mengunjungi Baruga Somba Opu, balai dengan arsitektur tradisional yang menawan, serta Museum Karaeng Pattingalloang yang menyimpan berbagai artefak peninggalan kerajaan dan cerita-cerita menarik seputar sosok Karaeng Pattingalloang sendiri, salah satu cendekiawan Makassar dari abad 17 yang dihormati bahkan oleh para koloni-koloni Eropa. Rumah-rumah tradisional suku lainnya yang mendiami Sulawesi Selatan seperti Mandar atau Toraja juga terdapat di area yang sekarang difokuskan menjadi salah satu lokasi wisata sejarah utama di Gowa ini.

Sekitar tahun 1605, raja Gowa – Tallo memeluk Islam yang dibawa oleh para mubalig dari Minangkabau. Agama Islam pun resmi menjadi agama kerajaan yang segera diikuti oleh seluruh masyarakatnya. Sejak itu, kerajaan Gowa – Tallo mulai lebih dikenal sebagai Kesultanan Makassar. Ekspansi wilayah dan penyebaran agama Islam ke daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan juga kian digencarkan, termasuk ke kerajaan-kerajaan Bugis seperti Bone, Wajo, dan Soppeng.

Dengan pusat pemerintahan yang berada di pesisir, laut menjadi kekuatan utama bagi Kesultanan Makassar. Posisinya yang strategis dan kebijakan yang menjunjung tinggi toleransi menjadikan pelabuhan Makassar ramai dengan para saudagar dari seluruh Nusantara.

Apalagi setelah Malaka yang sempat menjadi pusat perdagangan rempah di Nusantara jatuh ke tangan Portugis di awal abad ke-16, Makassar menonjol sebagai poros baru bagi lintas perdagangan internasional yang menghubungkan saudagar-saudagar Cina, Arab, India, Melayu, Jawa, Maluku, dan Eropa.

Kapal siapa pun diperbolehkan untuk bersandar di pelabuhan Makassar, membawa berbagai kargo dan komoditas yang begitu berharga. Salah satu pelabuhan dari zaman kerajaan adalah Pelabuhan Paotere yang sempat menjadi titik pemberangkatan armada Makassar yang terdiri dari ratusan kapal menuju perang.

Pelabuhan Paotere

Salah satu pelabuhan tertua di Nusantara yang sering dianggap sebagai ‘Sunda Kalapa’-nya Makassar ini terletak di Kecamatan Ujung Tanah, Makassar. Pelabuhan ini masih aktif hingga sekarang sebagai pelabuhan bagi para nelayan, di mana Travelers dapat menikmati berbagai santapan seafood yang fresh di tempat ini.

Kesultanan Makassar memasuki puncak kejayaannya di abad ke-17, dengan pengaruh politik yang dapat dirasakan di hampir seluruh Pulau Sulawesi bahkan hingga ke daerah Nusa Tenggara.

Makassar juga memiliki hubungan diplomasi yang baik dengan berbagai kekuatan politik lain di Nusantara seperti dengan Ternate, Demak, Banjar, Johor dan bahkan Inggris dan Portugis. Akan tetapi, Belanda dengan VOC-nya menentang Makassar yang membuka pintu pelabuhannya bagi siapa pun, terutama pada kekuatan Eropa lainnya seperti Portugis dan Inggris.

Belanda yang pada saat itu telah menduduki pelabuhan Maluku dan Batavia, ingin melancarkan agenda monopoli rempah mereka di atas Nusantara. Di waktu yang sama, Kesultanan Makassar juga mengalami berbagai perlawanan dari kerajaan-kerajaan Bugis yang menentang ekspansi besarnya, seperti Kerajaan Bone.

Perang pun tidak terelakkan. Pertengahan abad 17, Kesultanan Makassar menerima gempuran dari berbagai sisi. Tahun demi tahun, di bawah pimpinan Sultan Hasanuddin yang dijuluki ‘Ayam Jantan dari Timur’, Makassar melewati serangkaian perang melawan Belanda dan sekutu-sekutunya.

Perang Makassar pun terus berlanjut sebagai salah satu perang di Hindia yang paling merugikan pihak Belanda. Namun, meskipun dengan seluruh kegigihan dan kepiawaiannya dalam berperang, pada akhirnya Sultan Hasanuddin harus menerima kemenangan Belanda lewat penandatanganan Perjanjian Bungaya di November 1667, yang mempersempit pengaruh Makassar dan membiarkan Belanda menancapkan kekuasaan politik dan ekonomi terhadapnya.

Benteng Somba Opu yang menjadi pusat pemerintahan Makassar pun jatuh pada tahun 1669, dan poros kehidupan masyarakat setempat berpindah ke Benteng Jumpandang, salah satu benteng Makassar yang jatuh ke tangan Belanda dan setelahnya berganti nama menjadi Benteng Rotterdam.

Meskipun Belanda mendominasi untuk beberapa abad ke depan, Kerajaan Makassar tetap hidup lewat keturunannya. Pada tahun 1936, Raja Gowa XXXV atau I Mangngi Mangngi Daeng Mattutu mendirikan istana untuk kediaman kerajaan yang baru di Sungguminasa, Kabupaten Gowa, atau sekitar 30 menit dari pusat Kota Makassar. Istana Gowa dengan arsitektur Makassar ini kini lebih dikenal dengan nama Museum Balla Lompoa, yang bermakna ‘Rumah Kebesaran’ dalam bahasa Makassar. Museum ini bersebelahan dengan Istana Tamalate yang dibangun pada tahun 1980-an oleh bupati Gowa pada saat itu.

Museum Balla Lompoa

Museum Balla Lompoa dan Istana Tamalate merupakan dua bangunan dengan arsitektur tradisional yang cantik dan menarik untuk Travelers kunjungi. Apalagi bagi Travelers yang tertarik untuk mempelajari seputar Kesultanan Makassar lewat berbagai pusaka seperti mahkota, batu mulia, naskah-naskah lontara, hingga senjata-senjata yang dipakai saat perang perjuangan terdahulu.

Interior Museum Balla Lompoa

Selain beberapa situs yang disebut di atas, Travelers dapat mengunjungi Makam Raja-raja Tallo dan Masjid Katangka yang juga memiliki kaitan historis dengan Kesultanan Makassar. Benteng Rotterdam dan Museum I La Galigo-nya juga menyimpan berbagai peninggalan dan cerita kebesaran Kesultanan Makassar.

Kerajaan Gowa pun berakhir di tahun 1946, saat Andi Idjo, Raja Gowa XXXVI, menyatakan bergabungnya Kesultanan Makassar dengan Republik Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan. Namun kebesaran kerajaan ini tetap lestari lewat berbagai peninggalan dan pengaruh budaya yang ditinggalkannya.

Warna-warni kejayaan Kesultanan Makassar di darat dan di laut tidak dihasilkan oleh satu kekuatan, melainkan sebuah hasil dari persatuan dan kerjasama dua kerajaan yang membentuknya: Gowa dengan kesuburan tanah dan kekuatan agrarisnya; Tallo dengan akses laut dan kekuatan maritimnya.

Kualitas dari kedua kerajaanlah yang menjadi faktor utama kebangkitan Kesultanan Makassar sebagai adidaya di Nusantara yang membuatnya menonjol dalam buku-buku sejarah Indonesia saat ini. Karena itu, cerita mengenai Kesultanan Makassar akan selalu menarik untuk dipelajari dengan kekayaan akan nilai-nilai persatuan dan toleransi yang membawa kesejahteraan kepada setiap jiwa yang bernaung di dalamnya.

Artikel : Iqbal Fadly | Foto : Iqbal Fadly, George Timothy

  • Catatan
    • ‘Somba’ berarti ‘raja’, dan kawasan Somba Opu sempat menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Gowa – Tallo
    • Naskah-naskah lontara menjadikan Kesultaan Makassar sebagai salah satu kerajaan di Nusantara dengan pencatatan sejarah yang baik.

    • Lokasi : Benteng Somba Opu, Kec. Barombong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan 90224
    • Jam Operasional : Buka setiap hari (senin – minggu) pukul 08.00 – 18.00 WITA
    • Lokasi : Sungguminasa, Kec. Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan 92111
    • Jam Operasional : Buka setiap hari (senin – minggu) pukul 08.00 – 17.00 WITA
    • Lokasi : Jl. K. H. Wahid Hasyim No.39, Sungguminasa, Kec. Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan 92111
    • Jam Operasional : Buka setiap hari (senin – minggu) pukul 08.00 – 16.00 WITA
    • Lokasi : Jalan Abdul Kadir, Benteng Somba Opu, Kec. Barombong, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan 90225
    • Jam Operasional : Buka setiap hari (senin – minggu) pukul 07.00 – 17.00 WITA
    • Hubungi : 0852-4233-1227

Penyu Pertahanan dan Pelestarian

Bila dilihat dari atas, bentuk bangunan yang berusia ratusan tahun ini memang tampak seperti seekor penyu raksasa. Penyu yang terbuat dari batu ini akan terlihat bagai penyu yang seolah merangkak dengan pasti menuju samudra yang siap diarungi, atau penyu yang selalu waspada akan ancaman yang datang dari Selat Makassar di hadapannya.

Penyu raksasa yang berdiri di pesisir Kota Makassar ini memang dibangun berdasarkan filosofi seekor penyu yang melambangkan kekuatan darat dan laut, sebagai keunggulan Kerajaan Gowa – Tallo yang mendirikannya.

Bangunan ini dulunya bernama Benteng Jumpandang atau Ujungpandang. Dibangun sekitar tahun 1545 dengan bahan dasar sederhana seperti batu dan tanah liat. Namun, seiring berjalannya zaman bangunan benteng diperkuat lagi dengan batu padas hitam dari pegunungan karst yang ada di sekitar Makassar.

Benteng yang juga dikenal masyarakat dengan nama Benteng Panyua atau ‘penyu’ ini merupakan salah satu dari 17 benteng yang Kerajaan Gowa – Tallo (atau nantinya lebih dikenal sebagai Kesultanan Makassar) dirikan, sebagai garnisun utama salah satu kekuatan politik dan militer Nusantara terbesar pada zamannya. Akan tetapi, Kesultanan Makassar mendapat tentangan dari Belanda lewat VOC yang memaksakan agenda monopoli rempah mereka.

Di pertengahan abad ke-17, VOC melakukan sejumlah penyerangan terhadap Makassar yang terus bertahan dengan benteng-bentengnya. Namun Perang Makassar berakhir lewat Perjanjian Bungaya di tahun 1667, yang salah satu pasalnya mengharuskan Makassar untuk menyerahkan Benteng Jumpandang ke tangan VOC.

Di bawah Cornelis Speelman, gubernur jenderal VOC pada masa itu, Benteng Jumpandang yang mengalami kerusakan akibat Perang Makassar diperbaiki dan dimodifikasi dengan style arsitektur Belanda. Namanya pun dirubah menjadi Fort Rotterdam, berdasarkan kota kelahiran sang gubernur jenderal. Untuk ratusan tahun setelahnya, Fort Rotterdam menjadi salah satu titik penting dalam kekuasaan Belanda di Nusantara, terutama di Sulawesi atau Hindia-Belanda bagian timur.

Dengan areal kompleks seluas 2,5 ha dan 16 bangunan yang ada di dalamnya, otomatis Fort Rotterdam difungsikan sebagai pusat pemerintahan VOC yang baru. Fort Rotterdam menjadi gudang penyimpanan berbagai kargo dan komoditas berharga milik Hindia-Belanda yang singgah di Makassar.

Pertahanan Fort Rotterdam saat itu juga semakin diperkokoh dengan 5 bastion utamanya yang masih berdiri hingga saat ini: Bastion Bone, Bacan, Buton, Mandarsyah, dan Amboina. Sebagai basis militer, Fort Rotterdam juga berfungsi sebagai penjara. Bahkan Pangeran Diponegoro sempat menjadi salah satu tawanan di tempat ini di waktu pengasingannya.

Di tahun 1938, pemerintah Hindia-Belanda membentuk Celebes Museum di salah satu bangunan di area Fort Rotterdam. Museum ini menampung berbagai relik dan artefak yang ditemui di seluruh Sulawesi Selatan, seperti mata uang kuno, naskah-naskah Lontara, keramik dan gerabah, dan lain sebagainya.

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1970 museum ini diresmikan dan berganti nama menjadi Museum La Galigo. Banyak pihak juga turut berkontribusi untuk memperkaya koleksi dari museum, sehingga saat ini museum ini menampung begitu banyak informasi seputar kehidupan masyarakat di seluruh Provinsi Sulawesi Selatan, mulai dari temuan arkeologi prasejarah, koleksi kerajinan dan kebudayaan tradisional, kearifan lokal, hingga sejarah kerajaan-kerajaan setempat.

Areal Fort Rotterdam dan Museum I La Galigo menjadi salah satu tujuan wisata terfavorit di Makassar saat ini. Selain karena nilai historisnya yang tinggi, tempat ini amat mudah untuk dijangkau karena letaknya yang dekat dengan pusat kota. Walau kian berganti nama dan bentuk, atau berpindah tangan kepemilikan, sang penyu bercangkang batu padas ini tetap kokoh berdiri selama ratusan tahun sebagai saksi sejarah Kota Makassar, dengan cerita-cerita seputar salah satu daerah yang paling signifikan dalam lintas sejarah Nusantara.

Artikel : Iqbal Fadly | Foto : George Timothy

  • No.Road, Jl. Ujung Pandang, Bulo Gading, Kec. Ujung Pandang, Kota Makassar, Sulawesi Selatan 90171

  • Jam Operasional

    Buka setiap hari (senin – minggu) pukul 09.00 – 18.00 WITA

  • Hubungi

    (0411) 362 1701, 362 1702

  • Email

    kebudayaan@kemdikbud.go.id

  • www.kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsulsel/


Merangkul Si Jago Merah

“Pepe’-pepe’ ka ri Makkah
Lanterayya ri Madinah
Ya Allah parombasai
Na takabbere’ dunia”

“Api di Makkah
Lentera di Madinah
Ya Allah, sebarkanlah
Hingga takbir seluruh dunia.”

Barisan syair tersebut dinyanyikan bersama-sama. Lengking suara pui-pui dan tabuhan gandrang serta rebana yang bersahutan juga ramai memecah keheningan malam. Dengan iringan sejumlah alat musik tradisional Makassar lainnya, para penari pepe-pepe ka, dengan obor yang menyala di tangan mereka, mengarahkan api ke bagian tubuh masing-masing seolah sedang bermandikan api. Kemudian, para penari mengarahkan obor ke hadapan mulut mereka, dan menyemburkan bola api besar yang menerangi gelapnya malam.

Dalam bahasa Makassar, pepe bermakna ‘api’. Tari Pepe-pepe ka ri Makkah yang sering dijuluki ‘tarian api’ ini memang identik dengan nyala api yang membara sebagai atribut utamanya. Tarian ini biasanya ditarikan oleh laki-laki, namun ada juga yang ditarikan oleh perempuan dan versinya dikenal sebagai tari pepe-pepe ka baine.

Walau dengan gerakan tari yang sederhana, tarian khas suku Makassar ini selalu dapat menarik perhatian penonton yang takjub akan atraksi yang dihadirkannya. Akan tetapi tarian ini lebih dari sekadar atraksi atau unjuk kekebalan, tapi juga tarian yang sarat dengan ajaran-ajaran agama Islam.

Konon, tari pepe-pepe ka tercipta di Kampung Paropo, Kecamatan Panakkukang, Kota Makassar. Tari ini diperkirakan lahir bersamaan dengan masuknya agama Islam di Kerajaan Gowa – Tallo atau Kesultanan Makassar pada awal abad ke-17.

Tari pepe-pepe ka yang kental dengan nuansa Islam, dulunya merupakan salah satu media dakwah kesultanan dalam menyebarkan agama Islam ke seluruh semenanjung selatan Pulau Sulawesi. Meski budi daya tarian ini sempat meredup, saat ini pepe-pepe ka menjadi salah satu ikon pariwisata Makassar yang dapat Travelers saksikan. Kampung Paropo sendiri saat ini tengah dikembangkan untuk menjadi kampung budaya Makassar dan salah satu pusat pelestarian kesenian tradisional suku Makassar.

Selain nyanyian selawat para pengiringnya, ajaran agama Islam juga tersimbolkan dalam proses dan berbagai atribut tarian ini. Sebelum mulai menari, para penari serta pemain musik pengiring dianjurkan untuk berwudu yang dilanjutkan dengan membaca serangkaian doa. Tujuannya ialah agar para penari terbebas dari perasaan dan pikiran negatif, dan dapat tampil dengan hati yang bersih. Kemudian, para penari mulai mengoleskan anggota tubuh mereka seperti lengan dan kaki dengan minyak kelapa.

Di awal tarian ada tahap parurui pepe’ka atau pembakaran obor. Tiap penari memegang obornya sendiri-sendiri. Obor yang diangkat dan diputar-putar akan menjadi pusat perhatian para penonton. Apalagi melihat bagaimana api bersentuhan langsung dengan bagian tubuh para penari yang sama sekali tidak menunjukkan rasa sakit.

Api obor yang diarahkan ke para penari merupakan simbol dari cerita mukjizat Nabi Ibrahim yang tidak terbakar walau disulut api. Seperti Nabi Ibrahim, serangkaian doa yang dipanjatkan sebelum memulai tarian menggambarkan penari pepe-pepe ka yang menyerahkan diri pada kuasa ilahi dalam setiap rintangan yang harus dihadapi.

Atraksi bermain dengan api mungkin akan mengingatkan dengan kesenian debus dari Banten. Namun penggunaan api dalam pepe-pepe ka juga memiliki kaitan dengan falsafah hidup yang identik dengan suku Makassar.

Api yang menyala sebagai sumber cahaya dianggap melambangkan lentera ilahi yang menerangi kehidupan dan menunjukkan jalan yang benar. Api yang selalu panas dan berpijar juga dianggap sebagai cerminan karakter masyarakat suku Makassar yang tegas dalam mengambil tindakan atau keputusan.

Hampir seluruh kesenian dan upacara tradisional di Indonesia memiliki kaitan yang erat dengan ritual keagamaan, layaknya tari pepe-pepe ka. Dengan nilai religi dan latar belakang sejarahnya, tari pepe-pepe ka kerap mengisi acara-acara kebudayaan di Sulawesi Selatan yang selalu menghibur penontonnya dengan kobaran si jago merah di tengah serunya musik pengiring. Selain juga menjadi cerminan budaya Makassar yang selalu berpegang teguh pada agama, penuh semangat dan tidak mengenal rasa takut.

Artikel : Iqbal Fadly | Foto : Iqbal Fadly

  • Catatan

    Pepe-pepe ka ri Makkah memiliki arti ‘api dari Makkah yang suci’. Tarian yang lekat dengan simbol dan ajaran Islam ini hampir serupa dengan kesenian spiritual lain di Nusantara yang memakai api sebagai atributnya, seperti di Bali dan Jawa Barat.

Cerita dan Warta di Bawah Purnama

Dulu, di masa Kesultanan Makassar masih berjaya di selatan Sulawesi, Rakyat Makassar memiliki kebiasaan berkumpul, terutama di malam hari pada saat bulan purnama. Di bawah sorot cahaya purnama, duduk seorang passinriliq di tengah keramaian.

Dengan irama dari keso-keso, alat musik semacam rebab khas Sulawesi Selatan, passinriliq membawakan lantunan syair nan merdu yang menceritakan hikayat kehidupan, atau memberitakan titah dari sang raja. Pembawaan syair inilah yang dikenal sebagai sinrili (atau sinriliq), suatu bentuk sastra lisan dari budaya Makassar yang masih bertahan hingga saat ini.

Sinrili adalah budaya prosa dan bersyair dari Makassar yang sempat menjadi media komunikasi utama di era sebelum adanya alat telekomunikasi atau media massa. Budaya serupa juga dapat ditemukan di berbagai belahan Nusantara, seperti budaya kacaping dalam suku Bugis. Syair-syair yang dibawakan dalam sinrili pun beragam. Mulai dari cerita cinta, ungkapan keindahan alam, ajaran agama, cerita kepahlawanan, sejarah, dan cerita atau berita lainnya dalam tiap aspek kehidupan orang Makassar.

Sinrili dibawakan oleh seorang passinriliq, yang melantunkan syair serta memainkan keso-kesonya. Walau tidak ada waktu yang khusus, sinrili lebih umum dilakukan semalam suntuk. Passinriliq biasanya menghafal bait-bait syair atau membaca naskah saat membawakan sinirili.

Syair-syair dalam bahasa Makassar ini dilantunkan dengan nada merdu, dan kadang terdengar seperti lantunan tilawah Alquran. Nada yang dibawakan pun disesuaikan dengan mood dari syair. Ada kalanya sinrili mengundang ramai tawa penonton. Namun, banyak juga kesyahduan sinrili yang membuat penontonnya meneteskan air mata.

Dengan syair-syair yang mengandung nilai-nilai kehidupan dan adat istiadat, sinrili telah mengakar dalam masyarakat Makassar sebagai media berita yang umum membahas isu-isu terkini atau kritik sosial.

Sebagai sastra lisan, syair-syair sinrili juga menuturkan cerita-cerita rakyat yang menjadi khazanah sastra tradisional Nusantara. Banyak dongeng dan legenda Makassar seperti I Datu Museng dan I Manakkuk, maupun cerita sejarah yang menginspirasi seperti Kappalak Tallumbatua atau Karaeng Pattingalloang terjaga dalam bentuk syair-syair sinrili.

Umumnya kesenian sastra lisan Makassar ini dikategorikan menjadi dua, yaitu sinrili bosi timurung (sinrili hujan turun) yang bernuansa melankolis dan dibawakan tanpa iringan musik; serta sinrili pakeso-keso yang dibawakan dengan iringan musik dari keso-keso.

Salah satu sumber berpendapat bahwa budaya sinrili berawal di abad ke-16, yaitu di masa pemerintahan raja Gowa. Sinrili awalnya berfungsi sebagai nasihat-nasihat kebijakan bagi para raja, namun berkembang menjadi media komunikasi antara raja dengan rakyatnya, dan sebaliknya.

Di zaman penjajahan dulu, para passinriliq menyampaikan keresahan masyarakat lewat syair-syair yang mereka bawakan ke hadapan raja. Dan dengan syair-syair passinriliq jugalah pesan-pesan perjuangan dari raja tersebarkan ke rakyatnya di luar istana.

Sinrili juga berperan penting sebagai media dakwah di masa pengislaman Sulawesi Selatan, sehingga tidak jarang syair-syair sinrili dipenuhi dengan nilai-nilai agama dan ketuhanan. Di zaman setelah kemerdekaan, sinrili bahkan sempat disiarkan di radio setempat membawakan pesan-pesan pemerintah.

Meski kini sinrili semakin kurang diminati para pendengarnya, pemerintah setempat terus mengusahakan pelestarian budaya Makassar ini. Sejak 2013, sinrili resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional Indonesia dan kerap dipentaskan saat acara-acara besar di Makassar dan sekitarnya hingga saat ini.

Sebagai salah satu bentuk kekayaan sastra Nusantara, sinrili mengandung berbagai nilai yang tertanam dalam karakter orang Makassar dan signifikan dalam lintas sejarah daerahnya. Dengan para passinriliq yang kadang menghibur penonton bagai stand-up comedy, atau bagai suara raja yang penuh wibawa, menginspirasi semangat juang dalam tiap masyarakat yang menyimaknya.

Artikel : Iqbal Fadly | Foto : Syaief Husain

  • Catatan

    Salah satu seni sastra lisan warisan dari Kerajaan Gowa – Tallo ini mencerminkan kesusastraan tradisional yang tinggi dari Provinsi Sulawesi Selatan yang juga dikenal dengan naskah-naskah Lontara dan Sureq Galigo-nya.

Sepak Bola Tak Bergawang

Sekilas, mungkin permainan paraga mengingatkan Travelers akan sepak takraw di sejumlah daerah Melayu. Di mana sejumlah laki-laki bermain mengendalikan bola yang terbuat dari rotan dengan kaki mereka. Hanya saja, permainan khas Bugis dan Makassar ini memiliki sejumlah ciri khas yang menonjol. Sehingga permainan ini sering dikategorikan lebih dari sebatas olahraga atau permainan tradisional saja, tapi juga sebuah bentuk kesenian yang sarat akan nilai-nilai tradisi.

Menurut naskah-naskah lontara, paraga (sering juga disebut a’raga atau ma’raga) telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bugis dan Makassar setidaknya sejak zaman Kerajaan Gowa – Tallo. Bahkan ada yang menyebut bahwa paraga pertama kali dimainkan pada masa To Manurung, sosok yang diyakini sebagai raja Gowa pertama.

Awalnya paraga hanya dimainkan oleh kaum bangsawan dan dipertunjukkan pada saat acara tertentu saja, seperti penobatan raja atau penerimaan tamu-tamu istimewa. Seiring waktu, paraga berkembang menjadi permainan rakyat yang juga digemari masyarakat umum, bahkan menjadi ajang ketangkasan dan kejantanan tiap bujang yang ingin menarik hati para gadis pujaannya. Di beberapa tempat di Sulawesi Selatan, paraga juga menjadi salah satu media komunikasi selama penyebaran agama Islam.

Paraga dimainkan oleh 5-15 orang dan umumnya oleh kaum adam saja. Pemain paraga harus mengenakan pakaian tradisional Bugis – Makassar, lengkap dengan passapu atau destar khas daerah setempat yang menjadi salah satu elemen penting dari permainan ini. Paraga biasanya juga diiringi dengan pemain musik. Alat musik tradisional seperti gong, gendang, pui-pui dan calung-calung kerap meramaikan atraksi ini.

Bola raga yang terbuat dari anyaman rotan menjadi atribut utama dari paraga. Dengan kaki, tangan, dan kepala, para pemain memainkan bola raga dan mengendalikannya agar tidak jatuh ke tanah. Bola raga juga dimainkan dalam berbagai posisi. Mulai dari berdiri, duduk di tanah, posisi jongkok maupun rebah. Para pemain juga bisa men-juggle bola raga di tangan, lengan atau bahu mereka. Bahkan para pemain juga bisa menangkap dan menahan bola raga di kepala dengan bantuan passapu.

Biasanya para pemain akan membentuk formasi lingkaran dan memegang kendali bola raga secara bergantian. Tiap pemain akan mendapat kesempatannya masing-masing, mereka tidak boleh merebut bola dan harus menunggu giliran untuk dioper. Peraturan ini merupakan sebuah cerminan nilai tradisional akan pembagian peran dalam kehidupan sehari-hari. Saat mengendalikan dan mengoper bola raga, para pemain paraga juga menyelingi gerakan-gerakan seperti tarian yang mengikuti irama musik yang ada.

Salah satu hal menarik dari paraga sebagai atraksi yang mengundang penonton terdapat di sejumlah formasi yang para pemain bentuk. Ada beberapa jenis formasi ‘menara’, di mana para pemain saling mengangkat atau appanca dalam bahasa setempat. Susunan formasi menara dapat terdiri dari 6 orang, dan orang yang berada di puncak formasilah yang mengendalikan bola raga dengan tangkasnya. Formasi menara ini dipercaya mencerminkan nilai gotong-royong dalam budaya Bugis – Makassar.

Meski sudah berusia ratusan tahun, semangat masyarakat setempat untuk melestarikan paraga masih dapat terlihat, dengan generasi tua dan muda yang bermain bersama. Paraga memang mengandung nilai-nilai tradisional Bugis dan Makassar yang telah ada sejak zaman kerajaan terdahulu. Meski dalam sejarahnya, paraga terus beralih fungsi, diawali dari kegiatan kerajaan yang berkembang menjadi permainan tradisional, kini paraga dirayakan sebagai salah satu atraksi yang turut mewarnai ragam budaya di Indonesia.

Artikel : Iqbal Fadly | Foto : Rezki Sugiarto Nurdin