Banyuwangi kini mempunyai tempat-tempat asyik yang semakin menjamur, salah satunya adalah Kafe Sun Osing yang bisa dikatakan tempat baru namun sudah mampu menyediakan suasana dan berbagai olahan sedap khas Banyuwangi yang akan menjadi kesan indah pertama Travelers ketika datang di Bumi Blambangan. Selain kopinya yang nikmat, makanan yang dihidangkan pun tidak kalah lezat. Di sini juga terdapat toko oleh-oleh Banyuwangi dengan pilihan yang beragam dan harga yang terjangkau. Lokasi Kafe Sun Osing yang hanya beberapa puluh meter dari Bandar Udara Blimbingsari, pantas menjadi tujuan utama setibanya Travelers di Banyuwangi atau menjadi tempat persinggahan terakhir sebelum meninggalkan Banyuwangi.

Artikel : Ayub Ardiyono

 

  • Lokasi

    Jl. Brawijaya No.67, Kebalenan, Bakungan, Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68431.

  • Jam Operasional

    Buka setiap hari mulai dari pukul 09.00 – 22.00 WIB

  • Hubungi

    0896-7718-6470

 

 

Belum ke Banyuwangi kalau tidak menyempatkan menyeruput nikmatnya berbagai macam kopi yang ada di Banyuwangi! Kali ini, tempat yang Tim Travelink bisa rekomendasikan adalah Kafe Ijen Isun yang menghadirkan ragam kopi yang nikmat. Untuk menemani secangkir kopi, Travelers bisa juga menikmati aneka camilan khas Banyuwangi seperti Kue Cucur, Lupis, Ketan dan juga pilihan makanan tradisional utama seperti Ayam Pedas khas Banyuwangi. Sempurnakan pengalaman berlibur para Travelers dengan mengunjungi Kafe Ijen Isun!

Artikel : Ayub Ardiyono

 

  • Lokasi

    Jl. Raya Lijen, Banjarsari, Glagah, Dusun Watu Ulo, Rejosari, Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68432.

  • Hubungi

    0813-3656-3214

  • Jam Operasional

    Buka setiap hari dari pukul 08.00 – 22.00 WIB

 

Hotel dengan paduan budaya, kenyamanan dan keramahan pelayanan.

Illira Hotel Banyuwangi merupakan salah satu hotel berbintang empat yang memiliki 137 kamar dengan empat tipe, yaitu ; Eager Room sebanyak 104 kamar, Adorable Room sebanyak 29 kamar, Fabulous Room sebanyak 02 kamar dan tipe tertinggi yaitu Illira Suite Room sebanyak 02 kamar.

Konsep dan arsitektur dari seluruh sisi Illira hotel merupakan perpaduan yang sempurna antara modern dan Banyuwangi culture, sehingga banyak sekali ornamen-ornamen khas Banyuwangi yang ditata nan apik di hotel ini. Fasilitas yang lengkap dan pelayanan yang prima merupakan komitmen Illira Hotel untuk menjadi hotel yang terdepan di Banyuwangi.

Blue Fire Sky Lounge merupakan Sky Lounge pertama di Banyuwangi yang menyuguhkan pemandangan 360 derajat ke Selat Bali dan kota Banyuwangi, berada di ketinggian lantai 11 tempat ini sangat cocok digunakan untuk tempat bersantai dan menghabiskan malam bersama keluarga, teman, kolega maupun pasangan. Blue Fire Sky Lounge buka dari pukul 17.00 WIB – 24.00 WIB, Special Live Music Performance bisa dinikmati setiap Jumat malam. Design tempat yang minimalis dan penyajian makanan serta minuman yang spesial akan membuat Anda merasa ingin berlama-lama di salah satu fasilitas unggulan dari Illira Hotel Banyuwangi ini.

Selain Blue Fire Sky Lounge fasilitas yang tidak kalah menarik ada di Lantai 3 yaitu Spice Restaurant dan Splash Pool. Spice Restaurant dengan keunggulan jam operasional selama 24 jam bisa menjadi alternatif pilihan untuk memudahkan tamu, baik tamu Inhouse maupun Outsider. Design restaurant yang cukup unik menggunakan ornamen-ornamen khas Banyuwangi yang belum banyak diketahui oleh masyarakat umum, bisa dilihat dari langit-langit yang terdapat di area indoor Spice Restaurant merupakan representative Cingkek.

Cingkek yaitu sebuah alat yang biasa digunakan masyarakat asli Banyuwangi untuk mengangkut rumput sebagai makanan hewan ternak. Sebagian dinding yang terdapat di area Spice Restaurant juga mengadopsi salah satu motif batik khas Banyuwangi yaitu Batik Paras Gempal, serta anyaman-anyaman bambu di tempat buffet makanan membuat Spice Restaurant semakin terlihat elegan untuk tempat makan pagi, makan siang maupun makan malam.

Saat Anda melangkah keluar dari lift menuju Restaurant, Anda akan disambut oleh kolam renang yang kita sebut Splash Pool dengan pemandangan Selat Bali yang spektakuler. Splash pool beroperasi dari pukul 06.00 WIB – 20.00 WIB. Dilengkapi dengan fasilitas penyewaan Bean Bag agar pengunjung bisa lebih relaxe sambil mengapung di atas kolam. Tidak perlu khawatir, karena Splash Pool juga memiliki paket berenang yang memfasilitasi untuk tamu outsider, paket tersebut sudah dilengkapi dengan pilihan menu makanan dan minuman yang telah disediakan.

Dan yang tak kalah menarik adalah fasilitas Poetry Ayoe SPA yang siap memanjakan pengunjung dengan berbagai pilihan treatment di antaranya Body Massage, Body Treatment, Ritual Traditional Asian Spa dan Beauty Salon. Poetry Ayoe SPA berada di lantai 2 dan beroperasional mulai pukul 10.00 WIB – 24.00 WIB.

  • ILLIRA Hotel Banyuwangi

    Jl. Yos Sudarso No.81-83, Lingkungan Sukowidi, Klatak, Kec. Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68421.

  • (0333) 338 4888

 

 

Sebuah tempat yang merupakan gebrakan baru bagi Banyuwangi dalam hal perhotelan, Hotel Dialoog yang berlokasi tepat di pesisir Selat Bali dan berhadapan langsung dengan Pulau Bali ini menawarkan sensasi beach hotel yang menyajikan kenyamanan dan keindahan alam di pojok Pulau Jawa.

Tim Travelink mendapatkan rekomendasi dan kesempatan untuk menginap dan menikmati kemewahan tersendiri di hotel yang mempunyai gaya bangunan modern industrial ini. Dari gaya tata kamar yang sangat nyaman, pemandangan kamar yang langsung menghadap ke Sunrise of Java, dan juga beberapa fasilitas lain seperti ruang olahraga, massage and spa, infinity pool, restoran dan juga lingkungan sekitar hotel yang sangat hijau dan asri.

Dialoog Hotel ini bisa dikatakan sebagai hotel baru di Banyuwangi namun sudah menjadi primadona tersendiri bagi kalangan traveler yang berkunjung ke Bumi Blambangan. Karena sudah lama Kabupaten Banyuwangi memimpikan adanya sebuah hotel yang bisa memanfaatkan potensi alam khas pesisir timur Jawa ini. Dan dengan adanya hotel ini, Banyuwangi sudah semakin siap untuk bersaing untuk menjadi destinasi wisata utama di Indonesia yang patut dipertimbangkan.

Salah satu yang sangat berkesan pada saat Tim Travelink adalah suasana di sekitar kolam renang pada pagi hari, karena dengan hanya duduk-duduk santai di pinggiran kolam renang dan secangkir kopi khas yang dibalut dengan sinar matahari terbit, Tim Travelink mendapatkan momen tak terlupakan dan sangat menjadi salah satu pagi terbaik selama di Banyuwangi.

Selain suasana pagi di Dialoog Hotel, jajaran pohon kelapa di area hijau utama tempat ini menjadikan pemandangan sekitar hotel bak lukisan indah negara tropis yang berpadu dengan birunya lautan. Sungguh momen yang mengesankan untuk bermalam di Dialoog Hotel dan menikmati keindahan sekaligus merasakan pengalaman yang luar biasa di Banyuwangi.

 

  • Dialoog Hotel

    Jl. Yos Sudarso, Kaliklatak, Klatak, Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur 68421.

 

Untuk Bergabung dengan Para Leluhur

Di seluruh dunia, kematian sering dianggap sebagai akhir dari segalanya. Di mana tangis menyatukan sanak saudara untuk berkumpul dalam duka akan kepergian anggota keluarga. Lain halnya dengan di Sumba, kematian dianggap sebagai sebuah langkah menuju awal yang baru.

Kematian orang Sumba kerap diupacarakan dengan mewah dan dimakamkan dengan megah dalam kubur batu megalitik (batu besar) yang tersebar di seluruh Pulau Sumba. Dengan tradisi penguburan yang unik, Sumba merupakan salah satu dari segelintir kebudayaan di dunia yang masih mempertahankan budaya megalitik hingga saat ini.

Dalam Marapu, sebutan untuk kepercayaan asli Sumba, kematian merupakan suatu perpindahan. Ketika seseorang meninggal, rohnya akan meninggalkan tubuh bagaikan udang dan ular menanggalkan kulitnya. Seperti yang tersebut dalam ungkapan adat ‘Njulu la kura luku, halubu la mandu mara’, yang artinya ‘Menjelma bagai udang sungai, berubah bagai ular darat’. Roh yang kekal diharapkan dapat mencapai Prai Marapu, alam baka atau surga tempat para leluhur Marapu berada. Namun, tiap roh akan sulit mendapat ketenangan jika belum dikebumikan dengan rangkaian upacara adat oleh keluarga yang masih hidup.

Tiap jenazah dibungkus dengan kain-kain tenun terbaik dan dimakamkan dengan posisi duduk meringkuk, layaknya posisi janin dalam kandungan. Hal ini menyimbolkan kelahiran kembali sang jenazah di dunia arwah. Jenazah kemudian disemayamkan selama beberapa hari di beranda rumahnya, sambil menunggu seluruh keluarga untuk berkumpul dan memberikan penghormatan terakhir, seperti me­nyumbangkan hewan korban atau bekal kubur. Setelah itu, jenazah akan diarak menuju tempat peristirahatan terakhir oleh seluruh keluarga dengan meriah.

Cerita di atas hanyalah gambaran kecil dari upacara kematian tradisional Sumba yang begitu kompleks. Tiap daerah di Sumba juga memiliki upacara yang bervariasi antara kampung yang satu dengan yang lainnya, dengan tata cara dan keunikannya tersendiri. Jenazah-jenazah tersebut umumnya dikubur dengan berbagai bekal kubur, mulai dari perhiasan tradisional, senjata, tempat sirih pinang, dan kain-kain tenun yang begitu berharga.

Tiap upacara biasanya melibatkan hewan korban yang rohnya dipercaya akan membantu perjalanan tiap roh manusia yang baru meninggal. Kuda dipercaya akan menjadi tunggangan roh mendiang di Prai Marapu, anjing dipercaya akan menunjukkan jalan dan menjaga roh tersebut, sedangkan ayam dipercaya akan membangunkan roh setibanya di alam seberang.

Tiap jenazah akan dikebumikan di kubur batu yang sudah menjadi pemandangan khas Pulau Sumba. Walau biasanya kubur batu berada di dalam perkampungan, Anda juga dapat menemukan kubur batu di pantai, perbukitan, maupun pinggir jalan. Terdapat beberapa jenis kubur batu di Sumba, mulai dari dolmen yang berbentuk seperti meja besar, hingga dolmen berundak yang berbentuk seperti peti batu yang tinggi dan besar.

Dulunya, seluruh kubur batu ini terbuat dari batu cadas alami dengan berat puluhan ton, dan membutuhkan tenaga ratusan orang untuk memindahkannya ke tempat kubur yang telah ditentukan. Proses ‘menarik batu’ oleh ratusan orang ini memiliki upacaranya tersendiri, yaitu Tingi watu.

Umumnya, kubur batu milik bangsawan disertai penji, semacam tugu dari batu yang dihias dengan ukiran-ukiran yang cantik. Ukiran-ukiran pada penji biasanya merupakan motif yang umum dijumpai pada kain tenun Sumba, yang mengindikasikan klan atau identitas dari mendiang yang terkubur.

Tiap kubur batu juga dapat menampung lebih dari satu orang. Biasanya, sepasang suami istri dikuburkan dalam satu kubur. Namun ada juga kubur batu yang dapat menampung hingga lima anggota keluarga, atau lebih dari itu. Kubur batu juga kebanyakan ditempatkan di halaman kampung untuk menjaga ikatan sakral antara mereka yang telah berpulang dengan keluarga yang ditinggalkan.

Dengan kebutuhan batu alam yang mahal dan sulit didapat, juga untuk mengumpulkan ratusan orang dan menjamu mereka dalam kenduri dengan puluhan hewan korban, seluruh proses untuk sebuah upacara kematian dan penguburan di Sumba dapat mencapai ratusan juta sampai 1 miliar rupiah.

Itulah mengapa banyak yang menunggu berbulan-bulan hingga puluhan tahun sebelum dapat memberikan pemakaman adat yang layak bagi mendiang anggota keluarganya. Banyak juga dari masyarakat Sumba saat ini yang beralih ke beton dan semen biasa untuk mempermudah pembangunan batu kubur.

Upacara kematian dan penguburan yang kompleks ini telah menjadi keunikan dan ciri khas dari Pulau Sumba. Proses pemakaman tradisional yang membutuhkan gotong royong dan kekerabatan yang amat tinggi ini juga mencerminkan nilai-nilai yang merupakan karakteristik masyarakatnya.

Setiap orang yang masih hidup harus berpartisipasi dalam rangkaian upacara kematian keluarga atau kerabat dekatnya. Dengan tiap doa dan ritual adat yang menghantarkannya menuju Prai Marapu, di mana mendiang anggota keluarga akan berkumpul dan berpesta dengan para leluhur dalam ketenangan yang abadi.

Artikel : Iqbal Fadly | Foto : Pater Robert Ramone