Garang Gemulai dalam Pekik Kemeriahan

Seni tari merupakan salah satu bentuk identitas tiap suku di Indonesia. Semua jenis tari mencerminkan keagungan budaya dan nilai-nilai penting yang dijunjung sebagai karakter bangsa. Di Sumba sendiri, terdapat ragam tarian dengan makna dan sejarah yang bervariasi. Dan setiap tarian adalah ekspresi atas pandangan masyarakat Sumba akan kehidupan, selain menjadi bentuk komunikasi dengan sesama, alam, maupun Sang Pencipta.

Salah satu tarian yang cukup dikenal adalah tari kataga yang dapat ditemui di Kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Barat. Berasal dari istilah katagahu, yang berarti ‘memenggal kepala korban dalam peperangan’, tari kataga adalah salah satu dari banyak jenis tarian perang yang mudah dijumpai di Indonesia bagian timur.

Menurut sejarah, tari kataga lahir dari budaya perang di masa lalu. Pada masa itu, pemenang dalam peperangan akan memenggal dan membawa pulang kepala lawannya. Kepala tersebut kemudian digantung di adung / andung, pohon di pekarangan rumah yang berisikan tengkorak-tengkorak musuh sebagai simbol kekuatan dan kemenangan.

Tengkorak-tengkorak yang bergantungan tersebut baru bisa diambil kembali oleh keluarga mendiang lewat sebuah proses damai yang melibatkan para prajurit yang memperagakan cara mereka berperang. Pemeragaan perang oleh para prajurit itulah yang menjadi asal usul tarian ini.

Pola gerak dalam tari kataga memang terlihat seperti barisan prajurit yang mengayunkan parang (katopu), melompat, dan memukul-mukul perisai (toda) sambil bersahutan kencang. Para penari kataga memakai kain adat dan alas kepala yang disebut rowa / kapauta. Gemerincing lonceng yang terpasang di tiap kaki penari, ditambah derap langkah serta lengking sahutan para penari, menambah nuansa seru dan bersemangat dari tarian ini.

Lain halnya dengan tari woleka dari Kabupaten Sumba Barat Daya. Diperagakan dengan sejumlah penari wanita dan pria, tari woleka sering dipertunjukkan dalam banyak acara besar juga kegiatan seni. Para penari pria akan menari dengan lincah sambil mengayunkan parang seperti dalam tari kataga. Sedangkan para penari wanita akan menari dengan anggun dan lemah gemulai. Para wanita pada tari woleka menari dengan merentangkan tangan sambil memainkan selendang yang menjadi elemen penting dalam tarian ini.

Konon, tari woleka dulunya merupakan bagian dari upacara bentuk syukur kepada para leluhur dalam kepercayaan masyarakat Sumba. Upacara itu juga dipercaya sebagai bentuk pemulihan akan pelanggaran dan kesalahan manusia, yang dirayakan dengan pemotongan hewan korban, perjamuan, serta tari-tarian yang kini berkembang menjadi tari woleka.

Tarian dari Kabupaten Sumba Timur terwakilkan lewat tari-tarian rasa syukur, seperti tari kabokang yang merupakan tarian untuk mensyukuri kelahiran seorang bayi. Tarian ini kini berkembang menjadi salah satu tarian penyambutan tamu. Dalam tarian ini, para wanita berlenggang dengan ayu, sambil berputar membentuk formasi yang berubah-ubah. Biasanya para penari juga dilengkapi dengan warna-warni kain tenun khas Sumba Timur yang menambah pesona tarian ini.

Ada juga tarian yang merayakan panen, seperti tari kandingang dan patanjangung. Penari kandingang menggunakan rumbai-rumbai yang terbuat dari ekor kuda di tiap tangannya. Sambil menggerakkan kaki, para penari memutar-mutar pergelangan tangan dengan rumbai tersebut.

Masih banyak tarian lain dari Pulau Sumba, seperti tari ningguharama yang merupakan tarian penyambutan pahlawan yang kembali dari perang, tari warung kelumbut yang pola geraknya mengikuti gerak binatang, atau tari panapang banu yang menjadi bagian dari upacara melamar gadis.

Tarian-tarian tersebut terus dilestarikan hingga saat ini lewat berbagai upacara adat maupun sanggar kesenian yang tersebar di seluruh Pulau Sumba. Sebagai identitas masyarakat Sumba, maupun sebagai cerminan akan warna-warni pesona budaya bangsa kita yang terus diturunkan untuk generasi mendatang.

Artikel : Iqbal Fadly | Foto : Iqbal Fadly & Ibna Alfattah

Bentang Jelita dengan Sejuta Cerita

Keindahan kain Sumba sudah dikenal sejak era kolonial Belanda, sebagai salah satu komoditas berharga yang melambungkan nama Sumba selain kuda sandel dan kayu cendananya. Dengan nilai estetika yang tinggi, sejumlah kain Sumba bahkan dipilih untuk merepresentasikan budaya Indonesia di beberapa museum ternama dunia seperti di Inggris, Belanda, hingga Amerika Serikat. Di balik pesonanya, kain tenun Sumba juga menyimpan begitu banyak cerita menarik yang dapat dipelajari sebagai atribut adat yang memiliki posisi sentral dalam kehidupan di Pulau Sumba.

Seperti banyak seni budaya dari Sumba lainnya, kain tenun Sumba memiliki keterkaitan yang erat dengan Marapu, kepercayaan asli masyarakat yang mendiami pulau ini. Kepercayaan Marapu berpusat pada keseimbangan semesta dan sarat akan konsep dualisme yang terlambangkan dalam ungkapan adat ‘Ina mawolo, Ama marawi’, yang artinya ‘Ibu yang menenun, Bapak yang mencipta’.

Kegiatan menenun memang telah mengakar sebagai lambang kewanitaan yang esensial dalam adat Sumba, di mana perempuan yang mahir menenun kain-kain terbaik cenderung lebih diminati sebagai pasangan hidup yang ideal. Kain-kain tenun yang dilahirkan para perempuan Sumba itulah yang kemudian menyelimuti keseharian seluruh masyarakat di Tanah Marapu ini.

Dalam masyarakat Sumba, kain tenun bukan hanya sekadar pakaian atau pemanis dekorasi ruangan. Kain merupakan simbol prestise yang menunjukkan golongan, klan, atau kampung asal si pemakai atau pemiliknya. Kain juga berperan penting dalam upacara keagamaan atau ritual adat seperti kelahiran, pernikahan dan pemakaman.

Kain tenun menjadi hantaran kala seseorang lahir dan penyelimut jenazah kala seseorang wafat. Kain bahkan dapat mewakilkan kehadiran pemiliknya dalam situasi tertentu. Menurut kepercayaan Marapu, jika seorang ayah tidak bisa hadir di hari kelahiran anaknya, sosoknya dapat diwakilkan dengan kain hinggi miliknya agar sang anak dapat terlahir dengan selamat.

Selain sebagai perangkat adat yang sakral, kain tenun juga berfungsi sebagai pengganti uang yang dapat ditukar dengan hasil panen, perhiasan, logam, dan lain sebagainya. Kain merupakan salah satu indikator kekayaan. Semakin banyak kain yang dimiliki, semakin terpandang pemiliknya di mata masyarakat.

Saat ini industri pariwisata Sumba yang kian berkembang juga meletakkan kain tradisional Sumba sebagai salah satu tonggak ekonomi masyarakatnya, terutama bagi kampung-kampung pengrajin kain yang banyak dijumpai di Kabupaten Sumba Timur.

Terdapat beberapa jenis kain yang dapat Anda temui di Sumba, yang masih difungsikan dalam berbagai upacara adat. Jenis kain yang paling umum dikenal adalah hinggi dan lau. Hinggi adalah kain besar sepanjang kurang lebih 200 – 300 cm yang diperuntukkan bagi pria dan bisa dipakai sebagai selimut, selendang atau ikat pinggang. Lau adalah sarung sepanjang kurang lebih 100 – 200 cm yang dipakai oleh para perempuan.

Keindahan kain-kain hinggi maupun lau terdapat pada motif dan warnanya yang ekspresif, di mana tiap kampung di Sumba biasanya memiliki desain yang khas dengan motif dan corak warnanya tersendiri. Dua jenis warna dasar yang umum menjadi latar kain-kain ini adalah kombu rara (merah kecoklatan) yang didapat dari akar mengkudu, dan kaworu (biru gelap atau indigo) yang didapat dari daun tarum. Untuk menghasilkan warna yang lebih khas dan tahan lama, para penenun tradisional di Sumba masih mengedepankan penggunaan pewarna alami yang terbuat dari buah, biji, bunga, akar dan kulit kayu.

Motif menjadi elemen desain utama dari tiap kain tenun Sumba. Dan pada dasarnya, wastra Sumba memiliki begitu banyak ragam motif dengan arti filosofisnya tersendiri. Motif-motif ini adalah presentasi visual atas nilai-nilai yang dijunjung masyarakat Sumba yang juga terinspirasi dari alam sekitarnya. Tenun dari Sumba bagian barat umumnya memiliki motif geometris, sedangkan Sumba bagian timur memiliki kain dengan motif fauna, flora, benda-benda adat, hingga elemen dari cerita sejarah, agama, dan mitologi setempat.

Tiap motif memiliki cerita dan latar belakang sejarahnya tersendiri, seperti motif buaya yang selalu disandingkan dengan penyu. Buaya melambangkan kekuatan dan keberanian, sedangkan penyu melambangkan kesabaran dan kebijaksanaan. Dua motif fauna ini kerap bermunculan pada kain sebagai salah satu elemen dualisme terpenting dalam kepercayaan Marapu. Buaya dan penyu melambangkan sifat yang harus dimiliki seorang pemimpin, dan kain dengan motif keduanya merupakan simbol keluarga kerajaan atau golongan maramba di Sumba Timur.

Motif lainnya yang banyak menghias kain-kain di Sumba bagian timur termasuk lobster yang menyimbolkan keabadian, regenerasi dan reinkarnasi. Rusa melambangkan status bangsawan, sedangkan kuda melambangkan kegagahan pria. Ayam melambangkan kewanitaan dan rumah tangga, sedangkan ayam jantan melambangkan keperkasaan. Burung kakatua melambangkan kebersamaan bagai burung yang selalu berkelompok, sedangkan burung merak melambangkan keindahan dunia yang harus dilestarikan bersama.

Motif yang menceritakan kepercayaan maupun sejarah juga dapat ditemukan, seperti halnya motif ana tau. Motif ini berbentuk manusia dengan posisi tangan serupa bayi yang sedang terlentang. Sebagai elemen penting dalam kepercayaan Marapu, motif ana tau melambangkan kepolosan manusia dan pengingat akan Sang Pencipta yang maha mengetahui.

Lain halnya dengan motif andung yang berbentuk seperti pohon tengkorak. Motif ini menceritakan tradisi lama Sumba untuk menggantung tengkorak-tengkorak musuh di pohon yang ada di pekarangan rumah mereka sebagai tanda kekuatan dan kekuasaan.

Selain motif-motif ini ada juga motif epik yang menceritakan pendaratan pertama para nenek moyang orang Sumba di Tanjung Mareha, atau sosok mili mongga, makhluk raksasa yang dipercaya hidup di pedalaman hutan Sumba Timur.

Desain kain-kain di Sumba Timur umumnya terdiri dari baris-baris yang mewakili kelompok motif yang berbeda, dengan desain utama di baris yang paling tengah. Alhasil, sehelai kain dapat menjadi kolase motif dengan harapan agar pemakainya dapat memancarkan seluruh kualitas yang disimbolkan dari motif-motif yang beragam.

Pentingnya konsep dualisme dalam Marapu juga tertuang dalam motif-motif yang kebanyakan muncul dalam jumlah 2, 4, 8, atau 16. Angka dua dan kelipatannya merupakan elemen penting dalam ilmu kosmologi dan spiritual kepercayaan Marapu, yang menambah kesakralan tersendiri dari setiap kain yang dikenakan.

Satu hal yang menarik dari kain tradisional Sumba juga terdapat pada keterbukaannya pada pengaruh luar, yang makin memperkaya variasi desain kain Sumba yang sudah begitu beragam. Hubungan dengan kebudayaan lain melahirkan motif-motif baru seperti motif naga yang terinspirasi dari keramik-keramik Cina, motif singa yang dipengaruhi koin-koin pada masa kolonial Belanda, hingga motif patola ratu, motif geometris abstrak yang dipengaruhi India dan hanya diperuntukkan bagi golongan bangsawan hingga saat ini.

Cerita-cerita seputar wastra memang selalu lekat dengan para wanita. Segala keistimewaan tenun Sumba sebagai salah satu mahakarya budaya Indonesia, dimulai dari kesabaran, ketekunan, dan kreativitas para wanitanya. Bagaikan motif habak, sebuah bunga dari mitos Sumba yang melambangkan kegigihan dan keuletan wanita dalam bekerja, kain tenun dan seluruh prosesnya mencerminkan pengaruh wanita yang signifikan dalam budaya Sumba itu sendiri. Bahwa setiap mama, ibu, nenek, dan gadis di Sumba turut beperan dalam menghantarkan kain yang mereka tenun di sudut kampungnya, berkibar jauh hingga ke perhatian dunia.

Di balik fungsi dan maknanya yang beragam, tiap kain tenun Sumba selalu menjadi bentuk ungkapan akan harapan dan nilai-nilai adat lewat motif-motif nan indah jelita. Dalam budaya yang tak memiliki aksara asli, kain menjadi salah satu medium bagi nenek moyang masyarakat Sumba untuk bercerita pada generasi selanjutnya.

Tiap bentangan kain Sumba adalah paparan tentang sejarah masa lalu dan tradisi yang harus dijunjung bersama sebagai perwujudan identitas masyarakat Sumba. Dan selayaknya, keindahan akan warna dan ragam kain Sumba yang terpajang di banyak museum mancanegara, juga akan selalu menjadi paparan dan cerita akan keindahan, ragam dan warna-warni budaya di Nusantara.

Artikel : Iqbal Fadly | Foto : Iqbal Fadly & George Timothy

Harmoni dalam Keabadian

Gamelan adalah salah satu harta budaya Indonesia yang paling mendunia. Bahkan sebuah album musik orkestrasi gamelan tradisional sempat mendapat nominasi Grammy Awards di tahun 1972. Sampai saat ini kesenian tradisional ini masih terjaga dan terus berkembang. Keindahan dan kesyahduan iramanya menarik banyak perhatian mancanegara sehingga berbagai kelas dan kelompok gamelan dapat bermunculan di berbagai negara di luar Indonesia.

Gamelan Jawa kaya akan nilai estetika dan budaya, dan kerap dianggap sebagai perwujudan dari karakteristik masyarakat Jawa. Dalam pernikahan, upacara kerajaan, acara syukuran, hingga sebagai pengiring wayang kulit atau wayang orang, gamelan mudah ditemukan di berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa.

Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa, gamel yang bermakna memukul, dan memang sebagian besar instrumen gamelan adalah alat musik dari logam yang dipukul untuk menghasilkan suara. Alunan nada pada musik gamelan mudah dikenali karena dua jenis laras atau tangga nadanya yang khas: pelog dan slendro.

Slendro merupakan laras pentatonik yang terdiri dari 5 nada, sedangkan pelog memiliki 7 nada. Namun umumnya hanya 5 dari 7 nada laras pelog yang dimainkan dalam satu komposisi gamelan, untuk menghasilkan alunan pentatonik yang serupa dengan laras slendro.

Dalam orkestrasinya, para pengrawit atau pemain gamelan tersebar dalam kurang lebih 20 jenis instrumen. Gamelan didominasi oleh kelompok alat musik pukul dan tabuh seperti gong, kendhang, demung, bonang, gender, dan lain sebagainya.

Orkes gamelan biasanya ditemani dengan kelompok alat musik lain seperti rebab dan siter, dua instrumen yang menunjukkan adanya pengaruh budaya India dan Timur Tengah dalam sejarah perkembangan gamelan.

Suara yang dihasilkan gamelan memiliki efek magis dan meditatif yang kerap memberikan ketenangan bagi para pendengarnya. Gamelan berawal dari berbagai alat musik sederhana di zaman pra-sejarah yang kemudian berkembang menjadi aspek penting dalam ritual keagamaan selama masa kerajaan Hindu-Buddha. Gamelan juga menjadi media dakwah dalam masa penyebaran agama Islam di Jawa, menunjukkan bahwa gamelan memang selalu sarat akan mistik dan nilai spiritual.

Untuk mendengar langsung orkestrasi gamelan di Yogyakarta tidaklah sulit. Gamelan biasa dijumpai di berbagai titik wisata yang tersebar di Jogja, seperti Keraton atau Museum Sonobudoyo. Bagi Anda yang ingin belajar tentang gamelan lebih dalam lagi, Anda bisa mengunjungi Jogja saat Yogyakarta Gamelan Festival, acara tahunan di mana para penikmat dan pengrawit gamelan dari ratusan kelompok yang tersebar di berbagai belahan dunia berkumpul, berbagi, dan menunjukkan kemampuan mereka dalam seni gamelan.

Kini, eksistensi gamelan Jawa telah menembus luar angkasa lewat misi antariksa Voyager. Pesawat nirawak Voyager menyimpan sejumlah data akan berbagai kebudayaan di dunia, sebagai representasi planet kita dan segala ragam kehidupan di dalamnya. Puspawarna, salah satu komposisi gamelan Jawa yang cukup dikenal, terpilih untuk menjadi bagian dari misi tersebut.

Saat ini Voyager 1 dan Voyager 2 adalah benda buatan manusia yang ada di posisi terjauh dari Bumi dan masih terus melesat menembus antariksa 40 tahun setelah peluncurannya. Sebagai masyarakat Indonesia, hal ini menjadi suatu kehormatan untuk dapat merepresentasikan planet kita dan seluruh umat manusia lewat keindahan, keagungan, dan cita rasa budaya Nusantara yang terabadikan dalam gema alunan gamelan Jawa.

Artikel : Iqbal Fadly | Foto : Ibna Alfattah

Sensasi, Atraksi, Tradisi

Matanya melotot, menatap liar ke arah penonton selagi denting gamelan bermain dengan tempo yang semakin cepat. Kemudian ia berteriak, berlari kesana kemari bak seekor kuda yang tengah mengamuk. Berguling-guling di atas tanah seperti orang kerasukan.

Scene ini mungkin terlihat menyeramkan bagi anak-anak. Namun potongan adegan tersebut merupakan hal yang umum terlihat dalam kesenian jathilan, di mana saat-saat penarinya ndadi atau kerasukan menjadi atraksi utama yang ditunggu-tunggu para penonton.

Jathilan adalah kesenian rakyat khas Yogyakarta yang berkembang di desa-desa di Jogja, dimainkan oleh sejumlah penari dan pengiring yang memainkan gamelan. Penari umumnya terdiri dari laki-laki yang menunggangi kuda kepang yang terbuat dari bambu. Tarian ini bertumpu pada kuda-kudaan tersebut, di mana para penari berjingkrakan dan dari situlah istilah jathil berasal.

Di antara para penari terdapat seorang pawang yang membawa cambuk. Selain memimpin tarian, pawang bertugas untuk mengendalikan para penari, menyadarkan mereka dari kerasukan dan menjaga keselamatan tiap penarinya.

Menurut sejarahnya, kesenian tradisional ini awalnya dikaitkan dengan ritual upacara untuk memanggil roh nenek moyang atau totem binatang, serupa halnya dengan tari Sang Hyang Jaran dari Bali. Itulah mengapa jathilan sangat lekat dengan unsur mistik, yang hingga saat ini pementasannya masih dimulai dengan menyiapkan sesaji dan pembacaan sejumlah mantra atau doa-doa.

Umumnya para penari jathilan kerasukan roh yang dipercaya sebagai roh totem kuda, yang membuat mereka bertingkah layaknya seekor kuda. Mereka mengendus, memakan rumput, dan membuka buah kelapa hanya dengan gigi. Ketika para penari tersebut dalam kondisi trance atau ndadi, mereka melakukan atraksi kekebalan seperti memakan pecahan kaca, menyayat tubuh dengan benda tajam, atau dilindas dengan sepeda motor. Semua mereka lakukan dengan mudah dan tanpa terluka. Beragam atraksi itulah yang kerap ramai mengundang penonton.

Kuda merupakan elemen penting dalam jathilan. Dengan penari bagai para prajurit yang menunggang kuda dalam perang, tarian ini menyimbolkan keperkasaan dan kekuatan. Jathilan juga umum dibawakan dengan cerita kepahlawanan seperti Aryo Penangsang atau cerita Panji lainnya, namun ada juga yang mengambil cerita dari sejarah atau legenda kepercayaan setempat.

Saat ini terdapat ratusan grup jathilan yang tersebar di Yogyakarta. Di tengah budaya Jogja dengan sistem keratonnya yang halus dan terstruktur, jathilan yang ekstrem, bebas, dan ekspresif merupakan salah satu bentuk keberagaman dari budaya Jawa yang laris sebagai hiburan di kota wisata seperti Jogja.

Jathilan juga terus berkembang hingga hari ini dengan banyak variasi mulai dari musik, gerak, kostum, properti, hingga desain kuda kepang yang dipakai. Di Kulon Progo misalnya, variasi jathilan incling yang diiringi alat musik dari bambu bernama krumpyung lebih umum untuk dijumpai. Ada juga versi jathilan putri yang dibawakan oleh perempuan hingga jathilan campursari yang menggunakan iringan lagu dangdut atau campursari.

Jika Anda berkunjung ke desa-desa di pelosok Jogja, Anda bisa menemukan Jathilan dan menyaksikan keseruan yang dibawakannya secara langsung. Tontonan masyarakat yang menghibur dan mencengangkan yang berasal dari tradisi turun temurun masyarakat Yogyakarta.

Artikel : Iqbal Fadly | Foto : Linda Sari

Kisah Cinta yang Mendunia dalam Balutan Budaya Jawa

Lewat cerita seperti Romeo & Juliet maupun Layla & Majnun, hampir tiap budaya di berbagai belahan dunia memiliki cerita yang mengedepankan kekuatan cinta. Di Indonesia, cerita serupa yang cukup dikenal masyarakat umum dan sudah melekat pada budaya Indonesia itu sendiri adalah cerita Rama dan Shinta.

Kisah yang juga dikenal dengan judul Ramayana ini bukan sekedar cerita cinta biasa, melainkan salah satu cerita cinta yang tertua dan terpanjang di dunia, melibatkan puluhan karakter yang terdiri dari manusia, raksasa, bahkan para dewa. Keindahan cerita ini dapat Anda saksikan dalam Sendratari Ramayana di Jogja, sebuah pertunjukkan tari kolosal Ramayana dengan balutan budaya Jawa.

Versi asli Ramayana ditulis seorang resi dari India bernama Walmiki yang hidup pada sekitar 400 – 200 tahun sebelum masehi. Ramayana adalah salah satu kitab Hindu yang sarat akan nilai keagamaan. Sejak maraknya penyebaran agama Hindu di Nusantara pada awal milenium pertama, wiracarita Ramayana sudah tertanam di berbagai budaya di tanah air. Namun kemudian cerita ini berkembang sehingga di daerah-daerah di Indonesia seperti Sumatra, Jawa, atau Bali dapat memilki versi ceritanya tersendiri.

Sendratari Ramayana menyuguhkan versi Jawa dari kisah ini. Awalnya, Ramayana versi ini ditulis di Pulau Jawa sekitar abad ke-9 M, kemudian ceritanya kerap mengalami modifikasi hingga muda ini lebih dikenal sebagai Kakawin Ramayana atau Serat Rama.

Walau memiliki beberapa perbedaan dari cerita yang asli, terutama di bagian ending, plot utamanya masih menceritakan petualangan Sri Rama dalam menyelamatkan Dewi Shinta dari cengkraman jahat Rahwana, sang penguasa kerajaan raksasa yang bernama Alengka. Sri Rama tidaklah sendirian dalam misi menyelamatkan cintanya itu. Ia dibantu oleh berbagai karakter ikonik seperti Laksamana, Jatayu, Sugriwa, dan tentu saja Hanoman sang kera putih.

Semenjak pementasan perdananya di tahun 1961, Sendratari Ramayana telah menjadi salah satu daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Indonesia. Pertunjukkan ini memang digagas untuk menjadi salah satu tonggak Indonesia sebagai negara yang relatif baru dalam industri pariwisata. Pementasan pertamanya melibatkan 55 penari utama dan 400 penari massal yang diiringi dengan puluhan penabuh gamelan dan sejumlah penyanyi tradisional Jawa.

Kini, Sendratari Ramayana telah menjadi salah satu kesenian yang identik dengan kota Jogja. Nama kota Yogyakarta dan Kesultanan Ngayogyakarta-nya sendiri diambil dari nama Ayodya, kota yang disebut dalam kitab Ramayana sebagai tempat asal Rama. Hal ini menunjukkan keterkaitan yang menarik antara Kota Jogja dengan epos Ramayana itu sendiri.

Di Kota Jogja, Anda dapat menonton Sendratari Ramayana di Panggung Trimurti maupun di Purawisata yang menyediakan panggung indoor dan diadakan secara rutin di malam hari. Namun pengalaman menyaksikan Sendratari Ramayana akan lebih istimewa di Panggung Terbuka Sendratari Ramayana yang diadakan di depan Candi Prambanan dan hanya digelar selama musim kemarau, yaitu pada bulan Mei hingga Oktober.

Riuh rendah alunan gamelan, lirih suara nyanyian dalam Bahasa Jawa, serta latar kemegahan Candi Prambanan akan menambah nuansa magis dari pengalaman Anda menikmati Sendratari Ramayana, salah satu karya agung dunia dengan sentuhan Indonesia.

Artikel : Iqbal Fadly | Foto : Ibna Alfattah